BeritaPrima.com, Jakarta - Warga Kalibata City, Jakarta Selatan, sepakat menolak rencana pungutan kelangkaan air yang akan dilakukan oleh Badan Pengelola (BP). Pada Rabu (24/8) malam, para warga memutuskan untuk mempertanyakan dasar pungutan tersebut. Mereka menuding pungutan itu hanya akal-akalan pengelola untuk memeras warga.
Berdasarkan pertemuan warga yang digelar Rabu (24/8) malam, seluruh warga di tiap tower sepakat untuk mempertanyakan alasan pungutan tersebut kepada BP Kalibata City. Warga (pemilik dan penyewa) dengan tegas menolak upaya penjajahan dan tindakan kesewenang-wenangan BP.
Sehubungan dengan rencana tersebut, para warga Kalibata City menggalang petisi massal yang isinya menolak tambahan biaya atas dasar kelangkaan air. Tak hanya itu, para warga siap untuk menggelar aksi damai sebagai aksi protes.
Salah seorang warga yang juga pemilik unit di Kalibata City, Roby, apapun alasan pihak pengelola Kalibata City sama sekali tidak bisa diterima. “Kalaupun misalnya benar terjadi kelangkaan air dan membutuhkan biaya tambahan, itu kan tanggung jawab pengelola yang merupakan perusahaan profit oriented. Ibaratnya kita bisnis kemudian terjadi kerugian karena kita salah menghitung, apa ya masuk akal kemudian kita meminta konsumen kita untuk menanggungnya. Apa yang dilakukan pihak pengelola itu logika yang sangat bodoh,” tegas Roby di bilangan Kalibata City Jakarta, Kamis (25/8/2016).
Kecuali, lanjut Roby, kalau pungutan itu dilakukan untuk kebutuhan ke depan baru bisa diterima akal sehat. “Apalagi faktanya ternyata pihak Palyja mengatakan kalau tidka pernah terjadi kelangkaan air. Jadi, secara hukum kalau misalnya warga kompak untuk menggugatnya, saya jamin 1000 persen pihak Podomoro akan kalah. Bahkan bisa dikenakan denda ganti rugi karena sudah membuat warga resah,” tandasnya.
Roby berharap kali ini warga bisa kompak untuk memberi pelajaran pihak pengelola Kalibata City yang semakin sewenang-wenang. “Kapan hari mereka sudah berhasil mengerjai warga dengan menaikkan IPL yang juga sulit diterima, masak sekarang kita masih mau dibodohi lagi. Kita siap perang, sampai ke meja hijau sekalipun,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Agung. Penghuni Tower Cendana ini menganggap pengelola mengada-ada. “Kami sudah lama melihat di depan mata bahwa kebutuhan air bersih di Kalibata City juga dipasok truk-truk tangki air. Itu artinya BP sudah kewalahan mengatasi kebutuhan air warga. Sangat mengada-ada, jika periode pemakaian air Januari 2015 sampai Juli 2016 baru ditagih pada September 2016,” kecam Agung.
Pada Selasa (23/8) sore, pengumuman rencana pungutan tersebut diumumkan , lewat pesan teks singkat telepon atau SMS. Teks SMS yang mengatasnamakan Badan Pengelola Kalibata City itu menyebutkan alasan terbatasnya pasokan Air dari PALYJA, sebagai dasar rencana pungutan yang belum jelas kisarannya itu.
Tetapi pengumuman itu menyebut mulai tanggal 1 September 2016, Badan Pengelola akan diberlakukan penagihan biaya Kelangkaan Air periode Januari 2015 s/d Juli 2016 dan termasuk tagihan bulan berjalan.
Secara terpisah, pihak manajemen PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) justru menyatakan pasokan air dalam kondisi normal. Pihak Palyja juga tidak menaikkan harga air yang sudah ditetapkan sebelumnya. Secara normal, Palyja memasok air sebesar 23 liter hingga 25 liter per detik untuk pemukiman Kalibata City.
Corporate Communication and Social Responsibilities Division Head Palyja Meyritha Maryanie mengaku heran dengan kabar kelangkaan air dan rencana pungutan di Kalibata City. Di sisi lain, sejak 2007, Palyja juga tidak pernah menaikkan tarif air.
“Ini sudah indikasi jelas bahwa ada yang tidak beres dengan pengelola Kalibata City! Jangankan ada persetujuan warga, upaya dialog saja tidak ada sama sekali. keputusannya sangat sepihak. Warga di sini disamakan saja seperti para tenant di mal,” kecam Icha, salah seorang warga. (feb)
BeritaPrima.com Bicara Fakta