Taruna mengatakan, dari sisi biologi, puasa bisa mendorong kesehatan. Selama tidak makan dan minum 14 jam, maka menurutnya, sepanjang itu tubuh mengalami proses metabolisme, yaitu makanan didaur ulang sekitar delapan jam.
Rinciannya yaitu, empat jam makanan disiapkan dengan keasaman tertentu dibantu asam lambung dan dikirim ke usus. Empat jam kemudian, makanan diubah jadi sari-sari makanan di usus kecil, lalu diserap pembuluh darah dan dikirim ke seluruh tubuh. Sisa waktu enam jam adalah waktu ideal bagi sistem pencernaan untuk istirahat.
“Penelitian plastisitas dan neurogenesis (kelenturan dan perkembangan otak), pada dasarnya sinapsis (jaringan otak) dapat berkembang berdasarkan faktor lingkungan, kejiwaan, dan makanan yang dikonsumsi,” kata dia.
Taruna mengutip hasil penelitian dari peneliti Johansen-Berg dan koleganya, yang diterbitkan dalam jurnal Neuron Journal, menunjukkan sinapsis di otak bisa berubah selama 24 jam, yang mana terekspos pembelajaran dan latihan.
“Lewat puasa sebulan penuh, berdasarkan plastisitas, neurogenesis, dan fungsional kompensasi, jaringan otak diperbarui. Terbentuk rute jaringan baru di otak, yang berarti terbentuk pribadi atau manusia baru secara biologis, psikologis dan fungsional,” kata dia.
Taruna mengatakan, secara fisik, puasa mengurangi potensi stoke dan jantung koroner serta menjadikan manusia dengan pikiran lebih baik.
“Dengan demikian fungsi dan manfaat puasa bagi kesehatan pada umumnya, dan fungsional otak pada khususnya, sangat besar. Sehingga dengan manfaat di atas,” kata Taruna. (aud)
BeritaPrima.com Bicara Fakta