
Setelah ditunggu-tunggu, tak ada kabar dari KBRI. Sriyono pun kembali menghubungi KBRI. Sriyono mengaku kecewa dengan KBRI. Pasalnya, seharusnya pihak KBRI yang proaktif melakukan kontak dengan pihak keluarga. Namun, hal yang justru sebaliknya pihaknya yang aktif selalu menghubungi KBRI.
“Kalau kita tidak menghubungi, mana mungkin KBRI menghubungi kami,” katanya.
Tak hanya menghubungi pihak KBRI, pihaknya mencoba mendatangi Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo untuk membantu dirinya. Namun, saat itu Wali Kota Solo tidak berada di tempat karena tengah pergi ke Jakarta.
“Karena segala cara sudah kami tempuh, akhirnya kami pun kembali menghubungi KBRI meminta agar jenazah kakak kami dimakamkan di Malaysia karena kami tak memiliki dana,” ujarnya.
Selain harus menanggung biaya kepulangan jenazah, keluarganya pun harus menanggung biaya ganti rugi motor yang dipakai kakaknya itu untuk bekerja sebesar Rp21 juta. Sebabsebelum kejadian tabrakan, kakaknya itu meminjam motor temannya untuk berangkat ke kantor.
“Untuk sementara temannya yang di Malaysia yang membayar motor yang dipakai kakak saya itu. Terus terang saya juga bingung apakah biaya perawatan rumah sakit sebesar Rp70 juta saat kakak saya dalam perawatan juga harus kami bayar,” ucapnya.
Sriyono mengungkapkan, korban bekerja di luar negeri sebagai caddy golf di Club Rahman Putra Kuala Lumpur Malaysia. Sri Maryani berangkat ke Malaysia yang kedua kalinya dan terakhir sehabis Lebaran 2015.
Sri Maryani merupakan seorang janda yang memiliki tanggungan hidup empat orang anak, yaitu Bagus Riyanto (22), Diah Ayu Citra Resmi (19), Rama Bahtiar Putra (15), dan Kunti Tri Ayudewi (11) serta ibu kandung Juminah (58). (ren)
BeritaPrima.com Bicara Fakta