Kerugian Akibat Banjir Jakarta Minimal Rp 1,5 Triliun

banjir-kelapagading2

Banjir parah terjadi di kawasan bisnis di Kelapa Gading, Jakarta. (Foto: BeritaPrima/son)

BeritaPrima, Jakarta - Banjir yang melanda ibukota Jakarta sejak Senin (9/2/2015) hingga Selasa (10/2/2015) hari ini mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) memperkirakan sekitar Rp 1,5 triliun kerugian yang ditanggung para pelaku usaha di Jakarta akibat banjir dua hari.

Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjoran, mengatakan, ada sekira 75.000 kios dan toko yang tutup akibat banjir yang melanda Ibu Kota ini.

“Jika omzet mereka per hari kita rata-ratakan Rp 20 juta per hari, maka kerugian yang dialami mencapai Rp 1,5 triliun per hari,” kata Sarman di Jakarta, Selasa (10/2/2015).

Itu untuk toko. Bagaimana dengan mal? Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani memperkirakan satu mall bisa kehilangan omzet sekitar Rp 15 miliar per hari akibat banjir.

“Untuk cost karena banjir bisa mencapai Rp15 miliar bagi mal yang menengah ke bawah saja,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani di Jakarta, Selasa (10/2/2015).

Menurutnya, akan sulit menghitung kerugian secara keseluruhan, karena pihaknya tidak mengetahui harga jual dari setiap mal yang ada. Meski demikian, dia memperkirakan angka tersebut merupakan biaya yang ditanggung karena banjir melanda.

“Menghitung secara keseluruhan sulit. Tapi, kita coba ambil mal yang ukurannya 30 ribu meter persegi, cost-nya sehari mencapai Rp15 miliar,” ucap dia.

Pengeluaran ini menjadi kerugian pihak mal karena dikatakan pengunjung yang datang akan menjadi berkurang. Sehingga, tidak ada pendapatan lebih yang didapatkan pengusaha di sektor ritel tersebut.

“Jangankan banjir, hujan saja kita malas kan untuk berbelanja, apalagi banjir. Terlebih lagi seperti di Kelapa Gading itu bisa dua hari mungkin surut kalau tidak hujan kembali,” jelas Haryadi.

Sarman menuturkan, banjir yang sudah melanda Jakarta sejak kemarin, membuat aktifitas transportasi di DKI Jakarta lumpuh. Hal ini pula yang membuat banyak kios dan toko tutup operasinya.

“Walaupun Mall buka namun kios banyak yang tutup dan pengunjung sepi akibat transportasi yang tidak bisa tembus ke lokasi dan banyak karyawan yang tidak masuk kerja,” tambahnya.

Dia menyebut pusat-pusat bisnis di lima wilayah Kota Jakarta dari pengamatan yang telah dilakukan puluhan ribu kios dan toko tutup tidak beroperasi. Seperti, wilayah Jakarta Timur di sepanjang Jatinegara Plaza, di wilayah Jakarta Barat Ciputra Mall, Citra Mall, Central Park, Glodok City, Pasar HWI, Glodok Jaya, Glodok Mangga Besar, Puri Indah Mall, Roxi Square, Mall Taman Anggrek dan WTC Mangga Dua.

Di Jakarta Pusat ada ITC Harco Mas, Mangga Dua Mall, Plaza Harco Electronic, dan pusat bisnis yang paling banyak terganggu adalah di daerah Jakarta Utara disana ada Mangga Dua Square, Electronic City, ITC Mangga Dua, Kelapa Gading Mall, Mall Artha Gading, Mall Kelapa Gading Square, Mall Sport Kelapa Gading, ITC Mangga Dua, Mall Kelapa Gading.

“Sedangkan pusat bisnis wilayah Jakarta Selatan lebih cenderung tidak separah di wilayah lain,” tukas dia.

Kerugian yang disebutkan Sarman tadi baru di sektor perdagangan di pusat bisnis. Padahal banyak sektor lain yang juga menderita kerugian tak kecil akibat banjir. Misalnya omzet perhotelan, pendapatan restoran yang juga dipastikan menurun, transaksi keuangan yang terganggu, dan perkantoran yang tidak beraktivitas akibat banyaknya karyawan yang tidak masuk kerja.

Sarman mengatakan, banjir yang terjadi saat ini membuktikan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum mampu mengatasi permasalahan banjir di DKI. “Sebagai kota jasa, Pemprov DKI Jakarta harus dapat segera mengatasi dampak banjir ini karena sudah sangat mengancam kelangsungan bisnis,” ungkapnya.

Menurutnya, banjir dan macet yang terjadi di ibu Kota merupakan momok yang selama ini menjadi ancaman pada aktivitas bisnis. Sebagai pelaku usaha, Sarman meminta Pemprov DKI mengambil langkah-langkah strategis dengan mempercepat fungsi Kanal Banjir Timur dan Kanal Banjir Barat.

“Revitatalisasi sungai yang berkesinambungan dan tereintegrasi, perbaikan drainase secara keseluruhan, khususnya pusat-pusat bisnis, sehingga dampak banjir ini dari tahun ke tahun semakin berkurang dan tidak menjadi ancaman bagi aktivitas ekonomi,” jelas dia.

(Audrey Andreana)

(Visited 57 times, 1 visits today)
Kategori: Bisnis

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*