“Ada pergolakan dalam diri saya, tidak saja karena saya warga Muslim-Amerika, tetapi juga karena saya keturunan Somalia, saya berkulit hitam, saya dinilai masih muda dan mungkin kurang berpengalaman. Begitu banyak identitas yang membuat saya harus berdamai dengannya.
“Tapi ini proses yang harus saya pelajari dan jalani seumur hidup. Saya rasa proses ini juga dijalani oleh orang tua saya ketika bermigrasi ke negara ini, dari kelompok mayoritas menjadi kelompok minoritas. Saya juga merasakan hal itu,” kata Hussein.
Othman Altalib – anggota dewan di Adams Center – pusat komunitas Muslim terbesar di Amerika Utara mengakui hal ini. Banyak warga Muslim-Amerika, khususnya anak-anak muda, yang datang ke pusat komunitas itu dengan beragam pertanyaan dan kegusaran menghadapi tantangan di sekeliling mereka.
“Sebagai salah satu pusat komunitas terbesar kami merasakan tantangan yang dirasakan anak-anak muda ini. Misalnya saja dalam kasus Omar Mateen – yang melakukan penembakan di klub malam di Orlando, Florida. Ia seorang anak muda Muslim yang dibesarkan di Amerika dan memiliki hasrat homoseksual. Menjadi Muslim dengan hasrat homoseksual saja sudah membuatnya harus berdamai dengan isu itu. Dan hal seperti ini juga dialami banyak orang. Anak-anak muda yang ingin hidup sebagaimana anak muda lain di Amerika, tetapi ada nilai-nilai yang harus mereka junjung sebagai warga Muslim atau sebagai keturunan kelompok atau negara tertentu,” ujar Othman.
Tetapi menurut Othman, hanya sedikit yang terpicu melakukan aksi kekerasan karena gagal menyelesaikan pertentangan konflik dalam diri mereka. Mohamed Hussein dengan tegas mengatakan mereka yang melakukan aksi kekerasan justru tidak pernah ke masjid atau bergaul dengan komunitas lain.
BeritaPrima.com Bicara Fakta