Bawa Mahasiswa Ke Gereja, Dosen UIN Diberhentikan Sementara
BeritaPrima, Banda Aceh – UIN Ar Raniry Banda Aceh akan memberhentikan sementara seorang dosennya bernama Rosnida Sari. Sanksi ini diberikan setelah dia ketahuan mengajak mahasiswanya berdiskusi tentang “Studi Gender dalam Islam” dengan pendeta di gereja.
Aksi staf pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut menuai kecaman di kalangan masyarakat Aceh dalam beberapa hari ini. Rosnida pun disuruh meminta maaf kepada pihak kampus, orangtua mahasiswa, serta seluruh masyarakat karena aksinya dinilai bertentangan dengan budaya dan syariat Islam yang berlaku di Aceh.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar Raniry, Dr. Abdul Rani Usman mengatakan, aksi Rosnida yang mengajak mahasiswa ke gereja adalah sesuatu yang sensitif bagi masyarakat di sana, karena dianggap bertentangan dengan budaya Aceh. “Seharusnya ini tidak perlu terjadi,” kata Rani kepada wartawan di Banda Aceh, Jumat (9/1/2015).
Rani mengimbau agar media serta masyarakat tetap tenang menyikapi persoalan ini, sehingga tak berbuntut aksi-aksi anarkis. Pihak kampus sudah menggelar rapat menyikapi kasus yang menuai pro-kontra di Aceh dalam beberapa hari terakhir.
Pihak Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar Raniry sendiri sudah merekomendasikan kepada Rektor UIN Ar Raniry terkait sanksi kepada Rosnida. Sanksi ini akan diputuskan oleh rektor.
Rekomendasi itu, kata Rani, adalah Rosnida harus meminta maaf kepada pimpinan, civitas akademika UIN Ar Raniry, para orangtua mahasiswa, tokoh masyarakat, serta seluruh masyarakat Aceh. “Kemudian pimpinan UIN akan melakukan pembinaan dan pendampingan kepada yang bersangkutan, dan menonaktifkan sementara hal-hal yang berkaitan dengan akademik, misalnya mengajar mata kuliah,” sebutnya.
Rosnida merupakan alumnus Universitas Flinders, Australia. Namanya kini menjadi pembahasan hangat di Aceh. Bahkan dia dituduh melakukan misi pendangkalan akidah karena mengajak mahasiswa muslim ke gereja. Kecaman dan ancaman mengalir ke Rosnida terutama melalui media social dan pesan berantai.
Hal itu muncul setelah tulisan Rosnida tentang pengalamannya mengajak mahasiswa berdiskusi ke gereja tayang di situs australiaplus pada 5 Januari 2015. Artikel ini kemudian dikutip oleh beberapa media lokal.
Dalam tulisannya, Rosnida mengaku, dia mengajak para mahasiswanya mengetahui agama lain dengan berkunjung ke sebuah gereja di Banda Aceh. Kunjungan itu dimaksudkan untuk mengetahui lebih banyak tentang kesetaraan gender dari pandangan agama lain.
“Saya mempunyai pengalaman yang sangat berkesan dengan mahasiswa-mahasiswi saya. Semester ini salah satu mata pelajaran yang saya asuh adalah Studi Gender dalam Islam. Sepertinya menarik jika mahasiswa yang semuanya Islam ini belajar juga tentang bagaimana agama lain melihat relasi laki-laki dan perempuan di agama mereka,” tulisnya.
Menurut Rosnida, aksi ini dilakukan karena saat berada di Adelaide, dia banyak berteman dengan masyarakat lokal, dan bahkan sempat tinggal bersama keluarga lokal selama tiga bulan.
Dalam paragraf lain ia menulis, “Selain untuk tahu tentang relasi laki-laki dan perempuan di agama mereka, saya juga ingin agar tidak ada ketidaknyamanan mahasiswa pada mereka yang beragama berbeda. Tujuannya tentu saja agar terjadi kesalingpahaman diantara mereka, menghilangkan prasangka yang sudah dibentuk oleh media (Koran dan TV) atau saat mendengar perbincangan orang lain.” (feb)

