Eks Ketum Gafatar: Kami Percaya Ada Juru Selamat
BeritaPrima.com, Jakarta - Mantan Ketua Umum Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) Mahful Tun Manurung, menyatakan para anggota ormasnya percaya akan adanya juru selamat di dunia.
Ia meyakini juru selamat itu muncul untuk menyelamatkan umat di bumi.
Pernyataan itu disampaikan Mahful, saat diwawancarai secara ekslusif oleh tvOne, Rabu 13 Januari 2016. Kata Mahful, juru selamat itu muncul sesuai dengan kearifan lokal di Indonesia.
“Entah juru selamat itu Satria Piningit, atau yang lain yang pasti kita mempercayai itu, sesuai dengan kearifan lokal,” ujar Mahful.
Berbicara soal itu, Mahful juga menyatakan, ada tradisi Tuhan di alam semesta. Seperti adanya siang dan malam, hidup dan mati, hingga termasuk negeri ini. “Tetapi, sejatinya kami tidak pernah memaksakan sesuatu (untuk mempercayainya). Kami coba percaya apa yang kami yakini,” ujarnya.
Terkait Ahmad Mussadek yang disebut sebagai juru selamat Gafatar, Mahful enggan berkomentar. Ia hanya menyebut, Ahmad Musaddek merupakan guru spiritual mereka dan pembina Gafatar.
“Ahmad Mussadek merupakan guru spiritual kami. Yang pasti, semua bisa jadi juru selamat. Karena, semua orang harus menjadi juru selamat buat dirinya dan orang lain,” kata dia.
Terkait ormasnya, dirinya menyatakan jika Gafatar telah dibubarkan sejak 13 Agustus 2015 lalu. Namun, aktivitasnya saat ini masih berjalan, karena sejumlah alasan, di antaranya demi kemanusiaan, dan para anggotanya yang merasa tak mau kembali ke tempat tinggal asalnya.
Selain itu, putusan Mahkamah Konstitusiterhadap uji materi Undang-undang Nomor 17 tahun 2013, yang menyebutkan pemerintah tidak berhak untuk mengeluarkan putusan bahwa suatu ormas itu sebagai ormas terlarang, merupakan angin segar buat Gafatar. Artinya, Gafatar merasa masih bisa menjalankan aktivitasnya.
“Sejak 13 Agustus 2015, kami evaluasi gabungan, kami sadar diri dengan perkembangan Gafatar yang begitu pesat di 35 daerah waktu itu. Saat evaluasi, kami berkesimpulan bahwa kami diterima dengan baik oleh masyarakat. Akhirnya, kita coba untuk berjuang kembali untuk masyarakat, untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang damai dan sejahtera,” kata Mahful.
“Tapi kemudian, kami diterpa isu yang luar biasa, dituding Al Islamiyah dan sebagainya, padahal Gafatar itu semua agama ada. Islam ada, Kristen ada, Katolik ada, Budha ada. Andai pun mayoritas (anggota) Islam, karena mayoritas masyarakat kita muslim.” (feb)

