Kisah Wajah Rani Yang Bercahaya Sebelum Eksekusi Mati

jenazahrani2BeritaPrima, Cilacap - Kejaksaan Agung akhirnya mengeksekusi 6 terpidana mati dini hari kemarin. 5 Orang terpidana dieksekusi di Lapangan Tembak Limus Buntu, Nusakambangan, Cilacap dan seorang lagi di Boyolali.

Banyak cerita miris seputar hukuman mati di hadapan regu tembak dari Brimob Polda Jateng tersebut. Salah satunya datang Rani Andriani alias Mellisa Aprillia, warga Cianjur Jawa Barat. Rani adalah satu-satunya WNI yang ikut dieksekusi Minggu kemarin.

Rani dan 4 terpidana matinya lainnya di eksekusi serentak pada pukul 00.30 WIB di Nusakambangan. Kelimanya dipastikan meninggal pukul 00.40 WIB.

Jenazah Rani lalu dipulangkan ke kampung halamannya di Cianjur untuk dimakamkan. Permintaan terakhir Rani, dia ingin dimakamkan di samping pusara Ibunya.

Jelang dieksekusi, Rani dikabarkan sudah bertaubat dan menyesali semua perbuatan. Rani juga sudah ikhlas dan menerima hukuman mati tersebut. Bahkan keluarga menyebut wajah Rani bercahaya jelang dieksekusi mati oleh regu tembak. Benarkah?

Raut wajah yang cerah itu terlihat saat adik Rani, Popi menjenguk kakaknya di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Jelang menghadapi regu tembak, Rani tampak ceria dan tidak terbesit sekalipun memperlihatkan wajah sedihnya.

“Rani sudah ikhlas sudah tegar, tapi sudah bersih mukanya,” ungkap Yuki, kerabat Rani kepada wartawan di kediaman keluarga, Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (18/1/2015).

Dia meyakini raut wajah yang bersih tersebut timbul berkat ibadah puasa uang dijalani Rani selama 40 hari. Ibadah puasa 40 hari itu dilakukan Rani atas saran pembimbing spriritualnya, Hasan Makarim.

Kata Popi, kakaknya terlihat ikhlas menghadapi hukuman mati. Justru Popi sendiri yang tidak kuat menahan kesedihan. Karena tidak mau melihat kakaknya sedih, kata Popi, idirinya terpaksa menangis di toilet agar sang kakak, Rani tidak melihatnya.

“Popi bilang dia itu enggak kuat, kemudian lari ke kamar mandi, dan menangis. Pas balik, Rani tanya ‘kenapa lama?’, Popi jawab, sakit perut, dia alasannya makan bakso,” beber Yuki, kerabat Rani menirukan perkataan Popi.

Rani merupakan putri pertama dari pasangan Andi dan Nani. Pasangan itu memiliki tiga orang anak, dan Popi merupakan adik bungsu, sedangkan adik keduanya tinggal dan bekerja di Batam.

Rani memang sudah bertaubat sebelum menjalani eksekusi mati. Menurut pembimbing rohani Rani, Hasan Makarim, Rani merupakan sosok yang religius. Selama ini, kata Hasan, Rani rajin beribadah.

Bahkan, kata Hasan, sebelum dipindah ke Nusakambangan, Rani sudah menjalankan ibadah puasa 40 hari.

“Itu adalah kesadaran pribadi dari dirinya karena kedekatan pada Allah. Karena puasa membuat sehat fisik dan ketenangan,” katanya, Sabtu (17/1/2015).

Hasan mengatakan, mental Rani cukup stabil menghadapi rencana eksekusi mati ini. “Sangat kuat. Ia kerap beribadah terus baik salatnya maupun zikir dan doanya. Bahkan, kalau saya ketemu harus lihat waktu apakah sedang beribadah atau tidak,” katanya.

Hasan mengemukakan penguatan mental dilakukan Rani dengan zikir kepada Allah. Bahkan, Hasan mengaku sempat memberikan Rani dua buah buku.

“Kemarin malam, saya beri dua buku saku, yakni buku zikir doa dan Asma’ul husna dan dia menerimanya dengan senang hati, senyum dan tertawa, bahkan ia juga telah hafal asmaul husna,” ucapnya.

Sebelum menjalani eksekusi, Rani memiliki permintaan agar dia dimakamkan di samping makam ibundanya di Cianjur, Jawa Barat. Permintaan itu pun dikabulkan. Kini perempuan nahas itu kini telah beristirahat untuk selama-lamanya di pemakaman yang lokasinya persis sesuai dengan wasiat terakhir. (dik)

(Visited 6 times, 1 visits today)
Kategori: Peristiwa

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*