Mengenal Suku Pemilik Rumah Tertinggi di Papua
BeritaPrima, Jakarta - Suku-suku di Indonesia sangatlah beragam, begitu pula dari tempat tinggal mereka. Rumah tempat bernaung dari suku di Indonesia memilik keunikan tersendiri baik bentuk atau letak dimana rumah itu berdiri. Ada yang bentuknya megah seperti Rumah Gadang di Sumatera Barat atau ada yang letaknya di atas laut seperti suku Bajo di Wakatobi.
Tidak hanya sampai disitu, Indonesia suku satu ini juga memiliki rumah yang unik, yakni suku Korowai yang rumahnya berada di atas pohon dengan ketinggian 10 sampai 50 meter! Suku tersebut adalah Suku Korowai yang mendiami wilayah Kaibar, Kabupaten Mappi, Papua
Suku Korowai baru diketahui keberadaannya pada tahun 1974 oleh misionaris asal Belanda. Sebelumnya mereka benar-benar tidak mengenal dunia dan orang diluar kelompoknya.Alasan mereka untuk membangun rumah di atas pohon agar mencegah serangan dari suku atau klan lain yang akan mengambil anggota suku, bila itu terjadi, nantinya anggota suku yang tertangkap itu akan diperbudak bahkan dimakan.
Suku Korowai masih mengenal tradisi lama, seperti menceritakan mitos-mitos setempat, cerita rakyat dan reinkarnasi. Meski tinggal di daerah yang sangat terpencil, pada Mei 2006, pemandu wisata dan jurnalis Paul Raffaele memandu kru salah satu stasiun televisi Australia untuk merekam dan bertemu suku Korowai.
Pada saat itu, kru televisi tersebut melaporkan didekati seorang anggota suku yang mengatakan keponakannya yang berumur 6 tahun dituduh sebagai dukun dan akan dihukum secara kanibalisme, seram juga yah?!
Dalam artikel yang dibuat lembaga institusi Smithsonian, Paul Raffaele mengatakan, “Korowai adalah salah satu suku yang masih gemar memakan daging manusia”. “Anggota suku Korowai kebanyakan masih hidup dengan sedikit pengetahuan tentang dunia luar tempat mereka tinggal dan masih ada sedikit perseteruan di dalam lingkungannya. Beberapa juga mengatakan mereka akan membunuh dan memakan pria-pria yang tertangkap tangan menjadi dukun yang sering mereka sebut khakua,” ujar Raffaele.
Meski awalnya Korowai terkenal dengan kanibalismenya, menurut para Antropolog suku Korowai sudah tidak melakukan hal itu lagi. Syukurlah.
(Dimas Wahyu)


