Try Sutrisno: Saya Selalu Sampaikan ke Istri Apa Siap Jadi Janda

Mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Mantan Presiden BJ Habibie, Mantan Wapres Try Sutrisno, dan Mantan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao. Mereka hadir di acara kuliah Supermentor yang diselenggarakan Foreign Policy Club Indonesia (FPCI) di Djakarta Theatre, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 17 Mei 2015.
BeritaPrima, Jakarta - Wakil Presiden RI ke-6 Try Sutrisno menceritakan pengalamannya berkarier di militer selama 44 tahun pada acara kuliah ‘Supermentor’ Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) yang diselenggarakan di Djakarta Theatre, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 17 Mei 2015.
Seorang prajurit, kata dia, setiap kali hendak berangkat ke sebuah operasi militer, memiliki tiga kemungkinan yang dicapainya setelah operasi militer itu selesai.
“Yang pertama bisa pulang dengan selamat. Itu alhamdulillah. Yang kedua, pulang dengan cacat, invalid, itu tidak ada yang mengharapkan, yang ketiga, pulang di dalam peti berbalut kain bendera merah putih,” ujar Try.
Seorang prajurit, kata dia, harus memiliki mental untuk menerima seluruh risiko itu. Tak hanya itu, keluarga, terutama istri dari seorang prajurit juga harus memiliki mental yang sama kuatnya dengan suaminya.
“Saya dahulu selalu sampaikan kepada istri, apa siap untuk menjadi janda? Seorang janda belum tentu bisa menikah lagi. Ia harus siap untuk menjadi seorang ibu dan ayah bagi anaknya nanti,” ujar Try.
Kendati demikian, Try mengatakan, seorang prajurit yang tangguh dan loyal kepada negaranya pastilah akan menerima semua risiko itu. Dengan ketangguhan yang didapatnya sebagai hasil latihan dan kedisipilinan, seorang prajurit akan pulang dengan selamat setelah berhasil menjalankan operasinya.
Lebih dari itu, Try mengatakan, seorang prajurit sejati akan menjalankan seluruh risiko dan melakukan segala pengorbanan demi memenangkan pertempuran dan membela bangsanya.
“Seorang tentara juga bisa dinilai dari loyalitasnya kepada negara, karakternya dalam memimpin, serta keikhlasannya dalam berjuang. Itulah yang sebenarnya bisa memenangkan sebuah perjuangan,” ucapnya.
Try memulai kariernya di militer pada saat berumur 13 tahun pada 1948 dengan ikut serta dalam perang gerilya melawan tentara Belanda yang menjalankan agresi militernya. Pada tahun 1959, ia baru memulai karier formilnya di kemiliteran dengan bergabung ke Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Ia tercatat ikut serta dalam beberapa pertempuran, antara lain melawan pemberontak di Aceh dan Timor Timur, serta memberantas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera.
Pada tahun 1974, ia menjadi ajudan Presiden Soeharto. Puncak karier Try di militer adalah pada saat ia menjadi Panglima ABRI dari tahun 1988 hingga 1993. (aud)

