BeritaPrima.com, Manila – Meski Filipina adalah salah satu sekutu terdekat Amerika Serikat (AS) di Asia Tenggara, presiden baru negara itu ternyata memiliki “kebencian” terhadap Negeri Paman Sam.
Wali Kota Davao, Rodrigo Duterte yang baru saja memenangi pemilihan umum Filipina yang berlangsung pada 9 Mei lalu tidak menutup-nutupi “kebenciannya” tersebut. Dia sempat mengungkapkan hal itu dalam sebuah wawancara sebelum dia menyatakan pencalonannya sebagai presiden tahun lalu.
Kemarahan Duterte kepada AS berawal dari sebuah peristiwa yang terjadi pada 16 Mei 2002 saat sebuah saat terjadinya sebuah ledakan di sebuah kamar di Hotel Evergreen, Davao City yang dipimpin Duterte saat itu.
Ledakan tersebut berasal dari sebuah kotak metal yang dibawa seorang warga AS bernama Michael Terrence Meiring. Pasca ledakan tersebut, Meiring dituntut dengan tuduhan membawa bahan peledak, namun dia berhasil melarikan diri dari Filipina.
Meiring yang mengaku sebagai seorang pemburu harta dibawa ke rumah sakit setelah ledakan yang terjadi di kamar hotel tersebut mengoyak kakinya. Menurut keterangan dari pejabat Filipina, tiga hari setelah kejadian tersebut beberapa orang yang membawa lencana Biro Penyelidik Federal AS (FBI) datang, membawa Meiring dan menerbangkannya keluar dari Filipina tanpa izin.
Hal ini menyebabkan Duterte murka karena AS membantu seorang kriminal melarikan diri tanpa menghiraukan hukum Filipina. Dia juga menuduh Meiring terlibat dalam suatu operasi rahasia yang dilakukan AS di Filipina.
Setelah 14 tahun berlalu, Duterte yang akan disumpah sebagai Presiden Filipina pada 30 Juni mendatang masih marah atas kejadian tersebut.
“Wali kota Duterte memiliki pengalaman pribadi di Davao,” kata juru bicaranya, Peter Lavina sebagaimana dilansir New York Times, Sabtu (14/5/2016).
“Kami berhasil menangkap pengebom, seorang tersangka dalam pengeboman Davao. Dia adalah warga AS. Dan dia menghilang dengan bantuan Kedutaan Besar AS. Saya pikir saat itulah hubungan buruk keduanya bermula,” jelas Peter.
Duterte sendiri mengatakan bahwa “kebenciannya” kepada AS adalah sebuah sentimen pribadi dan dia dapat mengesampingkan hal itu demi kepentingan nasional Filipina. Meski begitu, hal ini mungkin akan dapat mempengaruhi hubungan kedua negara sekutu itu di masa mendatang.
Kasus Meiring merupakan sebuah kasus yang sering dikaitkan dengan teori konspirasi di Filipina. Banyak yang mempertanyakan motif Pemerintah AS melarikan Meiring keluar dari Filipina.
Dia dicurigai sebagai agen dinas intelijen AS, CIA yang bertugas melakukan pengeboman di wilayah-wilayah Filipina yang saat itu tengah bergolak karena pemberontakan demi mendesak Pemerintah Filipina meminta bantuan yang lebih besar pada Washington.
Meiring yang meninggal pada 2012 di usia 76 tahun tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu kepada publik. Pengadilan Davao yang tidak dikabari mengenai kematian Meiring sampai saat ini masih memiliki surat perintah penangkapannya. (aud)
BeritaPrima.com Bicara Fakta