Edi memiliki sebuah cita-cita mulia untuk dapat diterapkan oleh anggotanya. Menjadi polisi teladan yang dekat dengan sang pencipta. Baginya, persoalan ibadah nomor utama. Jika urusan Tuhan selesai, maka siapapun enggan melakukan tindakan melanggar aturan.
Selain untuk diri sendiri, menghafal Alquran dianggap ikut memberi efek baik di kalangan polisi maupun masyarakat. Ia mencontohkan, kala diminta menjadi imam di sebuah desa, tentu anggotanya itu bisa menjadi pemimpin saat shalat.
Alquran sendiri adalah kitab Allah yang terakhir setelah Taurat, Zabur dan Injil. Kitab Allah itu dijadikan sebagai petunjuk bagi sekalian alam.
“Inna shalata tanha `anil fahsya i wal munkar,” sebut kapolres, merujuk pada petikan surat Al-Ankabut ayat 45 yang memiliki makna “Sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”.
AKBP Edi Bastari tak tebang pilih perihal yang satu ini. Mulai dari pangkat paling buncit hingga berpangkat perwira tetap kena ‘jatah’ untuk diminta membacakan surat pendek pilihannya.
Bukan hanya itu, bagi anggota Polres Aceh Tenggara yang beragama non muslim juga mendapat tugas sama. Namun bukan menghafal ayat Al-Quran, melainkan hanya Pancasila, Tri Brata serta beragam hafalan lain sesuai pesanan Edi.
“Hadiah dan hukumannya tetap sama, jam tangan, atau push up,” tukasnya.
Menurut Kapolres, jika seorang anggota polri dekat dengan Sang Pencipta, diyakini akan lebih beriman serta dapat merubah mental menjadi lebih baik. Utamanya tidak melanggar aturan dan belaku buruk. (ren)
BeritaPrima.com Bicara Fakta