Pasar Lesu, Rumah Berharga Di Atas Rp300 Juta Tak Laku
BeritaPrima.com, Jakarta - Pengembang properti yang tergabung Real Estate Indonesia (REI) mengakui, penjualan properti yang berada pada kisaran harga Rp300 juta ke atas tidak diminati oleh konsumen.
Masyarakat cenderung lebih memilih untuk membeli properti dengan harga murah, seperti rumah murah bersubsidi.
Hal ini disampaikan, Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta, Amran Nukman. Dia menjelaskan, pemangkasan harga jual untuk masyarakat, khususnya rumah kelas menengah tidak mungkin dilakukan.
Menurutnya, jika hal tersebut dilakukan, maka akan membuat pengembang merugi, karena harga harus mengimbangi harga tanah yang terus merangkak naik.
“Kalau harga Rp300 jutaan ke atas, sudah susah jualannya. Padahal, menurunkan harga tidak mungkin,” ujar Amran, di Summarecon Bekasi, Selasa, 20 Oktober 2015.
Dia berharap, pemerintah bisa menjaga harga lahan yang akan digunakan untuk menggarap rumah bersubsidi.
“Industri, bahan bakunya lahan, kalau lahan tidak disediakan susah. Kedua, harga lahan terus naik, harus dijaga harganya,” jelas Amran.
Dia menuturkan, jika pemerintah tetap ingin membangun rumah murah yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), harga lahan harus ditahan. Sebab, pengembang tidak bisa serta merta menaikkan nilai jual.
“Pemerintah membatasi batas atas nilai jual, sedangkan harga lahan terus naik. Harusnya harga pembelian lahan bisa ditahan untuk beberapa tahun ke depan atau harga jual bisa dinaikkan khusus rumah bersubsidi,” katanya.
Dia menambahkan, REI mencatat, penjualan properti pada semester I-2015 turun 50-60 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, pada kuartal III-2015 sudah terlihat adanya perbaikan, meski tetap menurun sebesar 30 persen.
“Jualan makin sulit. Mau diakui atau tidak oleh pemerintah, keadaan di sektor riil terjadi kelesuan yang betul-betul dialami para pengembang,” tuturnya. (feb)

