Penguatan Modal Masih Jadi Masalah Perbankan Tanah Air
BeritaPrima, Jakarta - Penguatan modal memang masih menjadi permasalahan bagi banyak bank di Tanah Air. Namun persoalan ini tak selalu menjadikan konsolidasi bank menjadi solusi.
Menurut Widigdo Sukarman, penulis buku “Liberalisasi Perbankan Indonesia”, sampai kini terdapat 54 bank yang masih bermodal inti dibawah Rp 1 triliun (BUKU I). “Sementara empat bank BUMN yakni Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Tabungan Negara (BTN) jika digabung total asetnya, baru bisa menandingi bank-bank besar di ASEAN seperti CIMB Niaga, DBS Bank, OCBC Bank, Maybank, dan Bangkok Bank,” kata Widigdo di Jakarta, Rabu (18/3).
Widigdo mengakui modal kuat penting bagi bank untuk mempertahankan ekspansi bisnis secara berkelanjutan. “Namun lebih penting lagi, komitmen pemilik bank untuk penguatan modal melalui kebijakan dividend payout ratio,” ujar Widigdo.
Namun Widigdo menyatakan bahwa konsolidasi institusi bank tidak tepat untuk kalangan bank BUMN. Beberapa wacana konsolidasi bank BUMN gagal membuahkan hasil. “Sehingga konsolidasi strategis lebih tepat untuk bank BUMN karena akan mendorong masing-masing lebih mengoptimalkan layanan di playing field masing-masing,” jelas Widigdo.
Widigdo menambahkan bahwa konsolidasi institusi bak lebih tepat untuk kategori kelompok BUKU I. Sebab memang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas layanan operasional melalui penguatan modal pasca konsolidasi dilakukan. “Selain itu, konsolidasi akan lebih cepat terealisasi jika ada insentif lain, misalkan perpajakan,” pungkas Widigdo.
(Aditya Sanjaya)


