Perekonomian Indonesia Dinilai Menuju Jalan Buntu

Bursa Efek Jakarta. (Foto: BeritaPrima/ Sonny Eko Kusetiawan)
BeritaPrima, Jakarta - Melemahnya perekonomian Indonesia akhir-akhir ini dinilai telah mencapai jalan buntu. Pasalnya, sejauh ini tidak ada jalan keluar yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki perekonomian Indonesia.
|
Pilihan Redaksi
|
Demikian disampaikan Salamuddin Daeng selaku Direktur Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Jakarta. “Saya tidak melihat ada jalan keluar,” sebut Daeng dalam Dialog publik di Warung Komando, Tebet, Jakarta Selatan, pada Selasa (19/5/2015).
Menurut Daeng, ada tiga faktor yang menandai buntunya perekonomian Indonesia. Faktor pertama adalah kekacauan politik dan hukum. Menurut Daeng, faktor politik yang tidak mendukung membuat para investor kecewa.
“Hampir seluruh media internasional membahas masalah ini. Mereka mengatakan bahwa seluruh proyek Jokowi, rencana-rencana Jokowi, itu semua sangat mengecewakan karena faktor politiknya tidak mendukung,” ujar Daeng.
Kedua, industry dan perdagangan. Bagi Daeng, permasalahan industry dan perdagangan ini ada dalam deficit transasksi berjalan. “neraca perdagangan kita memang surplus, tapi tidak terlalu besar. Kita mengalami masalah yang sangat besar dalam deficit transaksi berjalan,” tambah Daeng.
Ketiga, faktor global. Menurut Daeng, Joko Widodo (Jokowi) salah langkah dalam bekerja sama dengan Cina, terutama dalam infrastruktur. Pasalnya, Cina sedang dilanda utang raksasa yang dikabarkan utang terbesar di dunia.
“Keadaan Cina sendiri tidak dalam kondisi yang baik. Cina memiliki hutang public yang sangat mengkhawatirkan. Utang Cina senilai 28,2 Triliun dolar, itu sama dengan 100 kali utang Indonesia,”
“Pemerintahan ini tidak bisa ditunggu terlalu lama, karena secara strategi dia keliru,” tambahnya.
Satu hal lagi, bagi Daeng, gembar-gembornya Jokowi dalam menyerahkan proyek infrasturktur kepada Cina membuat Indonesia sebagai tiang penyangga dalam krisis yang dihadapi Cina. Menurut Daeng, ini adalah hal yang paling membahayakan.
“Yang lebih berbahaya lagi ketika ia menyeret kita kepada dinamika krisis internasional dan menjadikan kita sebagai salah satu tiang penyangga di dalam krisis yang dihadapi Cina dengan memberikan seluruh proyek infrastrukturnya (ke Cina),” tandasnya.
(Agil Kurniadi)

