Gusur Rumah Warga Pluit, Petugas Temukan Pistol Baretta

berettaBeritaPrima, Jakarta - Di tengah kesibukan pembongkaran permukiman padat di Waduk Pluit sisi timur, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (17/1/2015), ditemukan sepucuk pistol di rumah salah seorang warga.

Daeng Lopa (60), sang penghuni rumah yang semestinya turut direlokasi bersama warga sasaran penertiban lainnya ke Rumah Susun Sederhana Sewa Muara Baru, malah digiring ke Polsek Penjaringan.

Pistol yang ditemukan berjenis Barreta berikut magazen (tempat peluru). Hanya saja tidak ditemukan peluru. Nomor seri di pistol itu pun sudah memudar.

”Dari pengakuan, pistol itu tak pernah dia gunakan. Namun, kan, kami menyidik bukan dari pengakuan, tetapi dari pengungkapan fakta-fakta dan bukti-bukti,” kata Kepala Polres Jakarta Utara Komisaris Besar M Iqbal.

Iqbal mengaku bersyukur, gara-gara program relokasi, tidak hanya menertibkan kawasan kumuh, tetapi juga bisa mengungkap pelanggaran hukum. Tak mudah untuk melacak kejahatan di tengah permukiman kumuh karena jalannya tak beraturan. Rumah-rumahnya berdiri berimpitan.

”Kami sangat mendukung program Pemerintah Provinsi DKI ini, sekaligus efektif kendalikan kejahatan,” tambah Iqbal.

Berada di tengah permukiman Waduk Pluit seperti berada di tengah labirin. Permukiman itu dikelilingi gang-gang sempit tak beraturan, dan selokan yang airnya meluap.

Warga yang bermukim di waduk itu pun sesungguhnya berada di jurang bahaya. Di musim hujan, rumah-rumah mereka terendam banjir. Kini, giliran waduk dikeruk, rumah- rumah mereka pun terancam longsor.

Koordinator Pelaksana Normalisasi Waduk Pluit DKI Jakarta Heriyanto menyampaikan, pihaknya harus segera merelokasi warga karena pengerukan waduk sudah dimulai. Pengerukan harus dilaksanakan segera karena puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Januari. Waduk Pluit dioptimalkan menjadi salah satu pengendali banjir di Jakarta.

”Kami mendirikan posko di Waduk Pluit untuk mempermudah warga pindah,” jelasnya.

Namun karena unit yang tersedia di Rusunawa Muara Baru terbatas, tak seluruh warga memperoleh unit rusun. Dari 400 keluarga yang direlokasi, hanya 300 keluarga yang tertampung di rusun, dan sisanya mendapat Rp 2 juta-Rp 5 juta untuk menyewa rumah kontrakan. Besaran uang itu disesuaikan luas rumah warga yang rata-rata kurang dari 4 x 4 meter persegi.

Menurut Camat Penjaringan Yani Wahyu Purwoko, seperti relokasi pada pekan sebelumnya, ada 600 keluarga yang direlokasi. Namun, hanya 400 keluarga yang diberikan unit rusun, dan sisanya 200 keluarga diberikan uang pindah.

Namun, dalam pelaksanaannya masih saja ditemukan warga yang nasibnya terkatung-katung karena tak memperoleh unit rusunawa ataupun uang. Suratin (50), seorang buruh cuci, diminta petugas mengosongkan rumahnya, padahal ia belum memperoleh kunci unit rusun. Ah, rumitnya menata Jakarta! (feb)

(Visited 118 times, 1 visits today)
Kategori: Metro

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*