Satu dari Enam Anak di Jepang Hidup Dalam Kemisinan

Illustrasi anak-anak yang menjadi gelandangan di Jepang. (Foto: BeritaPrima/dok)
BeritaPrima, Jepang - Semua orang tahu bahwa Jepang merupakan salah satu negara maju dalam bidang ekonomi. Tetapi faktanya satu dari enam anak-anak di Jepang ternyata hidup dalam kemiskinan.
Kemiskinan sebagian besar tersembunyi di Jepang, mereka yang dilanda kemiskinan tidak tersentuh bantuan dan sekaligus dipandang sebagai hal yang memalukan. Meski begitu, masalah ini sekarang menjadi dianggap akan mengancam kebangkitan ekonomi Negara.
Contohnya Nana Kojima, seorang ibu dan orang tua tunggal dengan dua anak menjadi salah satu warga Jepang yang hidup dalam kemiskinan.
“Saya berusaha mencari uang untuk membayar sewa rumah. Setangah dari pendapatan saya untuk membayar sewa tersebut dan lalu sisanya tidak cukup untuk membeli makanan dan tagihan yang lain,” kata Kojima.
Di Jepang lebih dari setengah juta ibu sebagai orang tua tunggal hidup dalam garis kemiskinan, dengan penghasilan kurang dari 12.000 Dolar setahun
Kojima khawatir kalau nantinya dia tidak akan bisa memberikan kesempatan pada anak-anaknya untuk keluar dari kemiskinan.
Untuk sekarang ia masih menerima bantuan penitipan anak gratis, tetapi itu akan tidak berlaku lagi saat anaknya mulai masuk sekolah tahun ini. “Akan ada batasan untuk pendidikan. Saya tidak punya biaya,” ujar dia. “Akan sangat sulit menyediakan kebutuhan bagi mereka.”
Kojima tidak mendapat apa-apa dari mantan suaminya demi kebutuhan anak, sama halnya dengan 80 persen ibu tunggal lainnya di Jepang. Keadaan ini sangat membebani karena pekerjaannya sebagai pelayan hanya dibayar sekitar 10 Dolar perjam.
“Di Jepang, status single, apalagi seorang ibu yang bekerja mendapat diskriminasi,” imbuh Kojima.
Peningkatan jumlah ibu tunggal yang mempunyai anak dengan kemiskinan naik di Jepang.
Untuk menanggulangi itu, kelompok masyarakat mulai memberikan bantuan, termasuk relawan yang berusaha meyakinkan anak-anak yang didera kemiskina mendapatkan makanan yang sehat dan ibu mereka memiliki kesempatan untuk berinteraksi.
Chieko Kuribayasi direktur dari kelompok jaringan perlindungan anak yang dibentuk di Tokyo mencoba untuk mendalami persoalan kemiskinan ini.
“Sang ibu bisa saja terisolasi dengan sulitnya waktu untuk membesarkan anaknya sendiri,” ujar Chieko.
“Ini tidak hanya perihal uang. Kami berusaha membuat koneksi pada masyarakat agar bisa mengatasinya bersama-sama.”
Dia lebih lanjut mengatakan, banyak organisasi kemanusiaan hanya menunggu pemerintah melakukannya.
“Pemerintah harus membuat sebuah sistem yang tepat untuk membantu pendidikan anak-anak ini,” kata dia. “Semakin dewasa mereka nanti, mereka harus mematahkan kemiskinan dalam hidup mereka dan pendidikan adalah kunci utamanya.
(Dimas Wahyu)

