Ahok: Kalau Saya Dimualafin Gus Dur, 80 Persen Berhasil

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) meresmikan patung Gus Dur kecil di Taman Amir Hamzah Jakarta, Sabtu (25/4/2015).
BeritaPrima, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku selalu dinasehati oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi pribadi yang optimis.
“Man jada wa jada. Kalau kita bicara kan jangan putus asa,” kata Ahok usai meresmikan Patung Gus Dur Kecil, di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).
Karena dekatnya dengan Gus Dur, Ahok mengaku bisa masuk Islam jika mantan Ketua Dewan Syuro PKB itu memintanya. “Kalau saya dimualafin Gus Dur bisa 80 persen berhasil. Tapi saya bilang enggak ada hidayah, dan enggak mau munafik, mending begitu daripada beragama tapi munafik, mending saya kafir,” tutup Ahok.
Ahok pun menyebut Gus Dur mirip Laksamana Panglima Cheng Ho yang selalu memberikan semangat tinggi. “Buat orang Tionghoa, Gus Dur itu sudah kayak Cheng Ho, sudah kayak dewa-nya,” katanya.
Ahok mengenang dukungan yang pernah diberikan Gus Dur saat dirinya akan maju Bupati Belitung Timur. Semula Ahok tak didukung dari golongan Tionghoa.
“Awalnya keluarga saya enggak dukung. Mereka bilang, si koko Ahok enggak tahu diri, malu-maluin kau. Namun beda dengan Gus Dur, beliau bisik-bisik ‘kamu bisa jadi gubernur’. Gus Dur yang dukung,” kenangnya.
Dengan dukungan dari Gus Dur kala itu, Ahok mantab maju dalam perebutan kursi itu. Saat Gus Dur wafat, Ahok pun merasa kehilangan.
“Dia bisa membuat kita jadi berani karena dia kasih semangatnya luar biasa, tentu kita merasa kehilangan. Kata dia siapa pun bisa jadi presiden, gubernur, bupati, wali kota. Undang-undang menjamin, yang takut orang yang korup, takut sama orang jujur,” urainya.
Ahok mengaku meneladani kepemimpinan Gus Dur. Perjalanan Gus Dur saat memimpin, tutur Ahok, sangatlah tidak mulus, bahkan kebijakan yang diambil selalu dipandang sebelah mata. Hal ini, kata Ahok, sangat mirip yang dialaminya saat memimpin ibu kota.
“Kita ngomong benar tapi disalahin, ngomong di depan dimaki-maki. Contohnya semacam prostitusi jadi masalah padahal itu ‘sampah masyarakat’,” ujar Ahok.
Ahok menjelaskan, kebijakan adanya tempat khusus atau lokalisasi bagi pekerja seks komersial (PSK) agar “sampah-sampah” tersebut tidak berceceran dimana-mana. Hal inilah yang menjadi alasan Ahok membuat kebijakan tersebut, meski akhirnya menuai kritik tajam yang bisa saja menjatuhkan dirinya dari kursi Gubernur DKI.
“Tiap ada masyarakat pasti produksi sampah. Ada resiko di-impeach. Saya ikut Gus Dur saja deh, mau di-impeach, ya sudah. Ngapain repot-repot,” tutupnya. (feb)

