Gila! Mario Nekad Nyusup Ke Roda Garuda Karena Kecewa Tak Dijadikan Menteri

mario-steven-ambarita

Mario Stevan Ambarieta, penyusup di roda pesawat Garuda Indonesia, menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian. (Foto: BeritaPrima/ist)

BeritaPrima, Jakarta - Gila dan menggelikan. Itulah alasan yang disampaikan Mario Steven Ambarieta tenyang penyusupannya di roda pesawat Garuda Indonesia agar bisa ke Jakarta. Mario mengaku ingin ke Jakarta untuk menemui Presiden Joko Widodo karena kecewa tidak diangkat menjadi menteri kesejahteraan rakyat.

Mario bertekad menemui Jokowi agar bisa menyampaikan kekecewaannya itu. Dia ingin membantu rakyat Indonesia dengan menjadi menteri.

“Membacakan isi interogasi dengan pelaku, yang isinya pelaku kecewa tidak diangkat jadi menkesra oleh Jokowi,” kata Dirjen Perhubungan Udara, Suprasetyo, Kamis (9/4/2015).

Setelah lama melakukan pengamatan, pada 7 April 2015, sekitar pukul 10.30 WIB, Mario berhasil masuk lintasan Bandara Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Dia masuk dengan cara melompat pagar besi dekat kargo di ujung runway 18. Melihat pesawat Garuda yang akan take off, Mario kemudian mencoba untuk naik. Namun terhempas.

Tidak menyerah, Mario kemudian mencoba lagi dan menunggu pesawat lain yang sejajar dengan lintasan. Dia kemudian mendekati bagian belakang pesawat dan berhasil masuk ke roda utama pesawat.

Sebelumnya, pria 21 tahun kelahiran Jakarta 30 Agustus 1993 itu ternyata pernah berusaha menyusup di Bandara Kualanamu, Medan, pada 19 Maret 2015. Aksi Mario gagal karena keamanan yang ketat.

Mario kemudian mulai mempelajari situasi Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Selain mempelajari bagian rongga pesawat dari internet, Mario juga mempelajari jadwal penerbangan.

Mario memilih penerbangan Batik Air, Citilink, dan Garuda. Namun, akhirnya Mario memilih Garuda karena dianggap sebagai maskapai terbaik.

“Dia ingin mengetahui, apakah bagian ban pesawat itu longgar, atau sempit. Setelah tahu kondisi bagian ban, dia melakukan pengamatan lagi,” kata Kabag Humas Polres Bandara Soekarno Hatta AKP Sutrisna

Pada Selasa 7 April 2015, pemuda asal Rokan Hilir Riau itu akhirnya sukses menjadi penumpang gelap pesawat Garuda Indonesia jurusan Pekanbaru – Jakarta, yang terbang dalam ketinggian 34 ribu kaki.

Apa yang dilakukan Mario bukan kali pertama yang terjadi di Indonesia. Tercatat, sudah tiga peristiwa dan Mario adalah orang keempat yang ikut terbang di roda pesawat.

Ketahanan fisik Mario memang luar biasa. Sebab, sangat sulit sekali bagi seseorang untuk bertahan hidup di ketinggian 30-34 ribu kaki. Selain oksigen yang sangat tipis, suhu udara di ketinggian itu sudah minul derajat Celsius.

Mario tidak mempersiapkan diri. Tidak membawa makanan dan minuman. Ia hanya mengenakan jaket tipis biru, baju kaos, dan celana jeans hitam.

Suprasetyo mengatakan, apa yang terjadi di bandara itu adalah kelalaian pengelola bandara. Karena itu, sanksi tegas langsung diberikan kepada pengelola bandara.

“Karena terjadi kelalaian, pengelola bandara harus segera memperbaiki sistem keamanan,” katanya.

Menurut Suprasetyo, rekomendasi ini harus dilaksaanakan oleh Angkasa Pura untuk memasang pagar dan peralatan CCTV.

“Bila ada yang rusak segera diperbaiki. Prosedur atau airport security program harus diimplementasikan, yaitu dengan patroli sekeliling bandara setiap ada pesawat take off,” kata Suprasetyo.

Sanksi bagi pengelola adalah merotasi GM Bandara SSK II Pekanbaru, Slamet Samiadji. “Ini adalah tanggung jawab pengelola bandar udara. Apapun itu alasannya sudah tidak bisa dibenarkan, pengelola bandar udara dalam hal ini lalai,” katanya.

Guna melengkapi penyelidikan, hari ini Mario diterbangkan ke Pekanbaru. Petugas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan Personel Keamanan Penerbangan, Kementerian Perhubungan akan melanjutkan olah TKP di bandara itu. (Febrizky Akbar)

(Visited 22 times, 1 visits today)
Kategori: Peristiwa

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*