Kisah Ironi Tewasnya Satu Keluarga Penjual Akik Di Dalam Mobil

Buyung bersama istri dan anaknya ditemukan tewas di dalam mobil pribadinya karena keracunan obat nyamuk.
BeritaPrima, Jakarta - Warga Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (17/4/2015) dikejutkan dengan penemuan satu keluarga yang tewas di dalam mobil pribadi mereka yang terparkir di Jalan Raya Bekasi Timur, Jatinegara, Jakarta Timur.
Mereka adalah Buyung (bapak), Risti (ibu) dan Chandra (anak). Ketiganya diduga tewas akibat keracunan obat nyamuk yang mereka pasang saat tertidur di dalam mobil Granmax warna hitam bernomor polisi BD 1821 AH.
Mereka sengaja parkir di kawasan ini karena sehari-harinya mereka berjualan batu akik di kawasan Rawabening, Jakarta Timur.
Edi, salah satu tetangganya, mengatakan korban berasal dari Bengkulu. Mayat ketiganya ditemukan sekira pukul 05.30 WIB oleh kakak korban bernama Mohar.
Edi menjelaskan, Mohar yang curiga karena ketiganya belum rapi untuk berjualan segera mengecek ke mobil mereka. Saat dicek, ketiganya sudah tak bernyawa.
“Pagi tadi, kakaknya Mohar melihat mereka, karena heran biasanya jam segitu sudah rapi, tapi ini kok belum. Makanya, dia samper ke mobil enggak tahunya sudah enggak ada,” katanya.
Sementara paman korban, Edison, mengungkapkan bahwa Buyung bersama istri dan anaknya datang ke Jakarta secara berkala untuk berjualan batu akik di Rawabening, Bekasi. Sesekali mereka pulang kampung ke Bengkulu.
“Paling lama seminggu lah di sana, lalu kembali lagi ke Jakarta karena almarhum juga memiliki seorang putri berumur 1,5 tahun,” ujar Edison kepada wartawan, Jumat (17/5/2015).
Buyung selama berada di Jakarta menolak tinggal di rumah salah satu pamannya, karena takut kehilangan lapak yang biasa digunakan untuk berjualan batu akik. “Sempat kami tawari menginap, tapi itu sudah jadi pilihan dia untuk tidur di mobil. Dia takut lapaknya diambil orang,” ujar Edison, paman korban kepada wartawan, Jumat (17/5/2015).
Edison pun mengaku terpukul atas kejadian yang menimpa pasangan suami istri Buyung Haryanto (47) dan istrinya Desti (38) serta anak mereka yang masih berusia empat tahun, Chandra.
Semementara itu, kakak kandung Desti, Muharman, mengaku keluarga adiknya memang memilih menginap di mobil untuk mempertahankan lapak. Pasalnya, kawasan tempat adiknya berdagang ramai penjual batu akik.
“Memang yang dagang ramai sekali, jadi untuk lapak itu kita rebut-rebutan. Kalo kita mengeluarkan mobil langsung ada aja yang gantiin,” ucapnya.
Edison menambahkan, sebelum berjualan batu akik, profesi Buyung di Bengkulu yaitu pemborong bangunan. “Dulu almarhum pemborong bangunan rumah atau ruko di Bengkulu. Melihat maraknya batu akik dia memilih banting setir,” tambahnya.
Karena itu kabar meninggalnya Buyung secara tak wajar ini sangat mengagetkan banyak pihak. Salah seorang teman Buyung berjualan batu Akik, Andre (39), menceritakan adanya kejanggalan saat sebelum Buyung meninggal. Menurut Andre, Buyung sempat mengucap ingin pulang pada malam sebelum ditemukan tewas.
“Sangat tidak menyangka Mas, semalam masih ngobrol bareng sama saya. Dia juga sempat bilang sudah capek dan besok mau pulang,” ujar Andre (39), pedaganag batu akik yang berjualan persis di samping mobil korban, kepada wartawan, Jumat (17/4/2015).
Kepadanya, Buyung bercerita sempat dicopet di Pelabuhan Merak. “Dia sempat cerita minggu lalu ketika mau berbelanja bahan dia kecopetan di Pelabuhan Merak, dan itu juga dia dalam keadaan tidur di mobil dengan kaca mobil yang terbuka,” tuturnya.
Hingga saat ini, ketiga jenazah itu sudah dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, guna keperluan autopsi.
(Febrizky Akbar)

