Teroris Bom Bali Zulkifli bin Hir Dipastikan Tewas Tertembak Di Filipina
BeritaPrima, Jakarta - Biro Penyidik Investigasi Amerika Serikat (FBI) memastikan salah satu anggota teroris yang paling dicari, Zulkifli bin Hir alias Marwan, tewas dalam aksi penyerbuan di Filipina pada Januari lalu. Proses identifikasi dilakukan bukan melalui jasad tubuh Marwan melainkan potongan jari.
Laman Dailymail, Sabtu, 4 April 2015 melansir Marwan merupakan warga Malaysia yang sudah lama jadi buronan FBI. Pria kelahiran Muar, Johor itu dianggap berbahaya dan menjadi otak di berbagai aksi pengeboman di Filipina sejak tahun 2006 lalu.
|
Pilihan Redaksi
|
Marwan juga diyakini merupakan anggota kelompok militan Jemaah Islamiyah, cabang dari dari Al-Qaeda di kawasan Asia Tenggara. BBC bahkan menyebut Marwan turut menjadi dalang di balik pengeboman Bali tahun 2002 lalu.
Bagi koleganya di Indonesia yang mengenal Marwan, dia kerap disebut sebagai ular kecil yang berubah menjadi seekor naga besar.
FBI menghargai kepalanya seharga USD$5 juta atau setara Rp64 miliar. Untuk membuktikan Marwan telah tewas dalam penyerangan Januari lalu, potongan jari Marwan dan DNA nya dikirim ke markas FBI di AS. Di sana, mereka menemukan hubungan dengan DNA milik saudara kandung Marwan.
Dikutip dari Reuters, alasan bukan jasad utuh yang dikirim ke AS, lantaran operasi rahasia yang dilakukan pada 25 Januari lalu berakhir kekacauan. Saat itu, unit Pasukan Aksi Khusus (SAF) mencoba untuk menangkap Marwan dan Abdul Basit Usman. Abdul terkait dengan kelompok Para Pejuang Pembebasan Islam Bangsamoro (BIFF).
Operasi itu dilakukan secara diam-diam di wilayah Mamapasono, di bagian selatan Provinsi Maguidanao. Namun, karena tidak berkoordinasi dengan para pejuang Front Pembebasan Islam Moro (MILF), maka SAF pun menjadi target kelompok militan tersebut.
Alhasil baku tembak juga terjadi antara SAF dengan anggota MILF selama 8 jam. Akibat hal itu, sebanyak 44 anggota SAF tewas. Korban tewas juga jatuh di sisi MILF dan BIFF.
Menurut laporan Institut untuk Kebijakan Analisa Konflik (IPAC) pada bulan Maret lalu yang dikutip stasiun berita CNN, anggota SAF kekurangan amunisi senjata. Hanya satu dari anggota SAF yang berhasil selamat. Alhasil, perintah untuk menangkap Marwan diubah menjadi tembak di tempat.
Dalam laporan itu, BIFF disebut sengaja melindungi Marwan.
Peristiwa tersebut tidak saja membuat malu Presiden Filipina, Benigno Aquino, tetapi juga membatalkan kesepakatan damai dengan MILF yang telah berlangsung selama tiga tahun. Usai peristiwa itu, sempat terjadi unjuk rasa besar-besaran di Filipina dan menuntut Aquino mundur dari jabatannya.
Hari berkabung nasional sempat digelar untuk menghormati pasukan yang tewas demi menangkap Marwan.
Asisten Direktur FBI untuk kantor Los Angeles, David Bowdich, mengatakan nama Marwan langsung dihapus dalam daftar buronan FBI.
“Usai melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap data forensik dan informasi yang diperoleh dari mitra kami di Filipina, FBI telah menilai tersangka teroris, Zulkifli Abdhir tewas dan telah dihapus dari daftar buronan FBI,” ungkap Bowdich.
Dia juga mengucapkan turut berduka atas tewasnya puluhan anggota SAF dalam operasi itu. (aud)

