Penelitian ANZ: ASEAN Bisa Jadi Pusat Utama Manufaktur Dunia

ANZ - ASEAN The Next Horizon

CEO ANZ Indonesia Joseph Abraham: tenaga kerja yang banyak dan muda serta lokasi yang strategis adalah beberapa keuntungan ASEAN yang dapat menarik banyak perusahaan untuk membangun basis produksi di wilayahnya. (Foto: BeritaPrima/ Sonny Eko Kusetiawan)

BeritaPrima, Jakarta - ASEAN mamiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat utama manufaktur dunia dalam 10 tahun ke depan. Menurut penelitian terbaru ANZ berjudul ‘ASEAN: The Next Horizon‘ defisit infrastruktur ASEAN yang besar akan tertutup selama dekade mendatang dan memperkuat daya tarik sebagai kawasan ‘pabrik Asia’ baru.

CEO ANZ Indonesia Joseph Abraham mengatakan tenaga kerja yang banyak dan muda serta lokasi yang strategis adalah beberapa keuntungan ASEAN yang dapat menarik banyak perusahaan untuk membangun basis produksi di wilayahnya. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan hanya sedikit di belakang China dan India, ASEAN akan muncul sebagai mesin pertumbuhan terbesar ke-3 di Asia dan menjadi ekonomi terbesar ke-5 dunia pada akhir dekade ini.

Menurut Joseph, Integrasi ASEAN yang lebih besar dan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dapat memacu pertumbuhan PDB tahunan sebesar 6-8%. Sampai dengan tahun 2025, perdagangan intra-ASEAN diperkirakan akan melebihi nilai USD 1 triliun dan perdagangan ekstra-ASEAN dengan negara G4 mencapai USD 3,7 triliun. Investasi asing langsung (foreign direct investment) dari negara G4 juga akan bertumbuh kuat mencapai kisaran USD 106 milar pada tahun 2025.

Joseph menyoroti peran penting Indonesia sebagai perekonomian yang dominan dan pemimpin utama dalam pembangunan ASEAN. Namun Indonesia tidak bisa mengambil tongkat kepemimpinan begitu saja dan perlu melibatkan praktik pemimpin terbaiknya dalam ekonomi dan politik.

“Hal ini harus menjadi seruan bagi para pembuat kebijakan di Indonesia untuk mengambil kesempatan dengan memberikan insentif yang tepat untuk investasi asing dan mendorong arus investasi, profesional dan layanan yang terampil ke Indonesia,” ungkap Joseph dalam siaran pers ASEAN Economy Outlook oleh ANZ di Jakarta, Kamis (7/5/2015).

Menurut Joseph, sama dengan negara Asia lainnya, ukuran sistem keuangan Indonesia masih jauh di bawah ukuran perekonomiannya. Sebagai ekonomi yang dominan, Indonesia perlu memperdalam pasar keuangannya secara signifikan dalam dekade mendatang untuk muncul sebagai kekuatan modal ASEAN.

Glenn Maguire, Chief Economist South Asia, ASEAN, and Pacific ANZ menjelaskan, pasar keuangan yang likuid dan efisien akan menjadi sangat penting bagi Indonesia untuk menarik perusahaan asing, memperkecil kesenjangan infrastruktur, dan membiayai inovasi teknologi. “Tidak ada negara yang sukses melewati jebakan pendapatan menengah (middle income trap) tanpa melakukan transformasi kekuatan sistem keuangan,” ujar Glenn.

Menurut Glenn, bila Indonesia mampu melewati jebakan pendapatan menengah pada 2025, Glenn memprediksi ekonomi Indonesia dalam hal nominal produk domestik bruto (PDB) akan menjadi lebih besar dari pada akumulasi PDB seluruh member ASEAN. Apalagi pada 2025 ekonomi Indonesia akan diperkuat dengan tambahan 50 juta orang dalam usia produktif.

Namun Glenn menambahkan, Indonesia bersama ASEAN juga menghadapi potensi resiko yang harus segera ditangani bila tidak ingin mengalami krisis ekonomi jangka panjang. Glenn paparkan beberapa resiko terkait kehidupan masyarakat kelas menegah dan ke bawah diantaranya: 600 juta orang di ASEAN belum memiliki akses listrik, 360 juta orang belum bisa menikmati air bersih, dan 1,7 juta orang tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Bila tidak tangani, ekonomi ASEAN akan terbebani masalah-masalah kesehatan dan lemahnya produktivitas masyarakat.

Glenn juga berpendapat, kualitas, kuantitas, dan reabilitas kebutuhan pokok industri infrastruktur seperti energi, air, dan transportasi negara-negara ASEAN (kecuali Singapura dan Brunei Darussalam) masih belum memadai untuk mencapai pertumbuhan manufaktur ke tahap berikutnya. Hal ini akan menghalangi ASEAN menjadi ‘pabrik Asia’ baru bila tidak segera diselesaikan.

“Buruknya infrastruktur, khususnya di perbatasan antar negara masih menjadi penghambat negara-negara ASEAN untuk melakukan integrasi ekonomi, padahal konektivitas trans,” tutup Glenn.

Sonny Eko Kusetiawan

(Visited 60 times, 1 visits today)
Kategori: Keuangan

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*