RJ Lino Blak-Blakan Soal Kedekatannya Dengan Lingkaran Istana
BeritaPrima.com, Jakarta - Sejak beberapa bulan lalu, nama Direktur Utama PT Pelindo II Richard Joost Lino atau RJ Lino, begitu hingar bingar di jagat pemberitaan nasional. Entah berapa kali berita tentang dirinya jadi headline di berbagai media baik cetak maupun elektronik.
Di mata publik, sosok pria kelahiran 7 Mei 1953 itu begitu lekat dengan kontroversi. Gaya bicara dan sikapnya yang blak-blakan tak pelak membuatnya dicap arogan bahkan sombong oleh sebagian orang yang menentangnya.
Label “orang dekat” di lingkar satu istana pun melekat pada sosok RJ Lino. Aksinya, “mengadukan” penggeledahan Kantor Pelindo II oleh Tim Bareskrim kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, membuat rasa penasaran publik.
Sebenarnya, ada hubungan khusus apa Lino dengan orang-orang di lingkar satu istana itu? Apalagi usai kejadian itu, Kepala Bareskrim saat itu Komjen Budi Waseso langsung dicopot dari posisinya dan dipindahkan ke Badan Narkotika Nasional (BNN).
Banyak orang yang mengaitkan pencopotan Budi Waseso berkaitan dengan kasus Pelindo II. Selasa (13/10/2015), RJ Lino kembali bicara blak-blakan.
Dia pun banyak bercerita mengenai hubungannya dengan Sofyan Djalil dan Rini Soemarno.
Sofyan Djalil adalah orang pertama yang menelepon Lino kala Kantor Pelindo II di geledah Penyidik Bareskrim atas dugaan korupsi pengadaan mobile crane.
Bahkan, pembicaraan via telepon seluler itu diumbar dihadapan media. Lino mengakui, hubungannya dengan Sofyan Djalil sangat dekat. Kata dia, Sofyan lah sosok orang yang memintanya kembali ke dunia pelabuhan nasional, memegang tampuk jabatan Direktur Utama Pelindo II tahun 2009 silam.
Saat itu Sofyan Djalil menjabat sebagai Menteri BUMN. Pria 62 tahun itu masih ingat betul awal mula kala Sofyan awal cerita karirnya saat diminta menjadi Dirut Pelindo II.
“Saya ingat sekali, waktu itu beliau (Sofyan Djalil) interview saya, waktu itu ada Pak Said Didu sebagai Sekretaris Menteri BUMN. Beliau (Sofyan) tanya ke saya ‘Pak Lino, menurut Pak Lino pelabuhan di Indonesia seperti apa sekarang?’,” kata Lino sembari menuturkan kata-kata Sofyan.
“Saya bilang ‘Pak, waktu saya berhenti di sini tahun 1990, itu Priok salah satu yang terbaik di Asia. Hanya kalah sama di Singapura, Jepang, dan Hongkong. Dan saat ini (2009), saya enggak tahu urutan keberapa. Tapi saya tahu kesalahan tersebar Priok enggak maju itu karena kantor bapak ini (Kementerian BUMN)’. Coba ini menteri nawarin job tapi saya salahin,” kata Lino, tersenyum.
Secara langsung dia mengaku mengkritik Sofyan karena hanya melihat keberhasilan Direksi Pelindo II saat itu dari segi keuntungan, bukan pelayanan.
Di mata Lino, hal tersebut dipercaya menjadi satu kesalahan Kementerian BUMN kala itu. Meski dikritik, ucap Lino, Sofyan Djalil bisa menerimanya.
Bahkan, Lino meminta syarat-syarat “gila” bila Sofyan menginginkan seorang RJ Lino menjabat sebagai bos Pelindo II.
Pertama, keuntungan perusahaan tak boleh lagi dijadikan penilaian utama kinerja Direksi Pelindo II. Pelayanan harus jadi indikator utamanya. Persentase yang diminta saat itu 20 persen untuk keuntungan, 80 persen untuk pelayanan.
Kedua, Lino memberikan syarat yang lebih “gila” kepada Sofyan. Rencana pembangunan Pelabuhan Bojonegara Serang di sebelah barat Jakarta, yang menjadi program dua pemerintahan yakni Pemerintahan Presiden Megawati dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), harus dibatalkan.
Menurut Lino, pembangunan pelabuhan di Bojonegara yang letaknya 120 km dari Jakarta tak efisien. Pasalnya, 70 persen perusahaan-perushaan yang mengunakan jasa kepelabuhan berada di timur Jakarta.
Artinya, bila pelabuhan Bojonegara dibangun maka customer akan membayar lebih besar untuk biaya angkut barang ke pelabuhan. Customer, kata Lino justru akan lebih sengsara.
Meski menerima banyak kritikan, Sofyan setuju. Hal itu lah yang membuat sosok Sofyan Djalil teramat istimewa.
“Keterusterangan itu kalau orang enggak bisa terima ‘kok orang ini sombong banget’. Tapi Pak Sofyan itu sosok yang sangat istimewa karena beliau bisa menerima (kritikan). Itu menurutnya sangat logic dan itu yang membuat beliau support apa yang saya minta,” ucap Lino.
Semenjak hari itu, Lino mengatakan hubungannya dengan Sofyan Djalil menjadi begitu dekat.
Selain dekat dengan Sofyan Djalil, Lino juga mengakui dekat dengan Rini Soemarno. Kedekatan dengan Rini terjalin layaknya kedekatan dirinya dengan menteri-menteri BUMN sebelumnya, misalnya Sofyan Djalil dan Dahlan Iskan.
“Ibu Rini sama (dekatnya). Kan dengan Menteri BUMN sebelumnya Pak Sofyan Djalil, Pak Dahlan. Pak Dahlan bahkan selalu support saya di mana saja. Dia (Dahlan) bilang ‘kalau Pak Lino bawa (rencana proyek pembangungan), saya teken’. Bu Rini juga support saya,” kata Lino.
Saat disinggung terkait furnitur di rumah dinas Rini Soemarno, Lino menjelaskan asal-muasalnya. Lino menegaskan hal tersebut bukanlah suatu bentuk gratifikasi kepada atasannya itu.
Menurut Lino, rumah dinas Menteri BUMN itu sudah tak ditempati sejak kepemimpinan menteri sebelumnya, Dahlan Iskan. Saat Rini menjabat, rumah itu kosong dan tidak memiliki furnitur.
Seperti Dahlan, Rini lebih memilih untuk tidak menempati rumah dinas itu. Lantas tutur Lino, Rini mengusulkan agar persatuan ibu-ibu BUMN yang diketuai oleh istri Lino, menggunakan rumah di Komplek Widya Chandra itu untuk berbagai kegiatan persatuan ibu-ibu BUMN. Selama ini, aktivitas mereka selalu dilakukan di kantor Kementerian BUMN.
“Istri saya ambil inisiatif ke sana, lihat enggak ada meja, enggak ada kursi. Dia pinjam dari kantor kami di Tanjung Priok,” tutur Lino.
Selain furnitur, di rumah itu terdapat pula 12 lukisan milik istri Lino. Menurut Lino, nantinya barang-barang itu akan ditarik jika istrinya sudah tidak menjalankan kegiatan lagi di sana.
“Bukan pemberian ke Bu Rini pribadi. Gratifikasi itu kan kalau untuk pribadi,” kata dia.
Lino sendiri heran dengan pandangan beberapa pihak yang menilai kedekatannya dengan Sofyan Djalil dan Rini selalu diartikan negatif, ada rasa kecurigaan yang tinggi.
Padahal, ucap dia, kedekatan tersebut tak lebih dari sekedar jalinan hubungan baik antara pejabat BUMN dengan pemerintah.
“Kedekatan ini bukan karena apa-apa tapi untuk kebaikan negeri ini,” ucap Lino. (feb)

