Tim Ekonomi Jokowi-JK Belum Maksimal, Menteri Sofyan Anggap Wajar

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil menganggap wajar bila tim ekonomi Jokowi-JK saat ini belum maksimal.
BeritaPrima, Jakarta - Sudah hampir enam bulan lamanya pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) berjalan. Banyak kebijakan yang telah diambil untuk menyelesaikan masalah bangsa ini.
Namun tidak sedikit masalah tersebut belum diselesaikan dengan baik. Sebut saja masalah yang tengah dihadapi adalah masih melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Tercatat, sejak awal tahun 2015, nilai tukar Rupiah terus bergerak melemah ke level Rp12.900 per USD. Bahkan, pernah mencatat kelevel terendahnya yakni Rp13.200 per USD.
Banyak yang menilai, tim ekonomi pemerintahan Jokowi-JK kurang mumpuni dalam menyelesaikan masalah tersebut. Lalu apa tanggapan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil?
Sofyan mengakui, kondisi saat ini memang sulit sekali, dikarenakan masalah datang dari faktor eksternal. Tetapi pemerintah tidak tinggal diam, karena sudah banyak sekali melakukan program-program restrukturisasi, informasi struktural dan ekonomi Indonesia.
“Bahwa hasilnya belum maksimum, itu hal-hal yang wajar saja,” tegas Sofyan di kantornya, Jakarta, Sabtu (4/4/2015).
Sofyan menampik, hasil yang belum maksimum ini bukan karena lemahnya koordinasi antar kementerian.
“Saya pikir kalau koordinasi cukup banyak ya. tapi kemudian semua belum terkoordinasi, belum terselesaikan mungkin wajar saja. Karena banyak sekali masalah struktural yang harus kita perbaiki,” paparnya.
Sofyan pun mencontohkan, jika dalam rapat koordinasi (rakor) yang dilakukan, seringkali menghasilkan keputusan yang akan digunakan untuk memperbaiki fundamental makro ekonomi Indonesia.
“Nah, nanti tiap bulan akan diumumkan paket reformasi struktural. Ya bulan April ini akan diumumkan. Kemarin sudah diumumkan tentang pajak insentif, pajak tentang bebas visa, tentang L/C, tentang bea antidumping tambahan, itu persoalan yang begitu lama tidak terselesaikan,” paparnya.
Menurut Sofyan, untuk bulan ini pun pemerintah akan memperkenalkan Free Trade Agreement (FTA) domestik yang bertujuan untuk memudahkan investasi dan memudahkan ekonomi Indonesia.
“Kita akan melihat terus. Kemudian tentang struktur pasar, supaya inflasi terkontrol. Sejauh ini oke,” paparnya. (feb)

