Transaksi Valas BSM Tumbuh 30%-45% Pertahun
BeritaPrima, Jakarta - Transaksi valuta asing (valas) di Bank Syariah Mandiri (BSM) tumbuh sekitar 30%-45% per tahun. Transaksi tersebut bersumber dari transaksi Interbank, wholesale maupun banknote dengan jenis mata uang yang di perdagangkan antara lain USD, SGD, AUD, EUR, JPY, HKD dan SAR.
Menurut Kusman Yandi, Senior Executive Vice President BSM, volume transaksi valas di BSM tumbuh karena berkembangnya transaksi valas nasabah BSM baik di segmen korporasi, komersial, konsumer, priority, dan nasabah Haji (Tour&Travel). “Selain itu bisnis remitansi BSM bekerja sama dengan mitra di luar negeri di Malaysia, Singapura, dan Hongkong juga menopang pertumbuhan transaksi valuta asing perusahaan,” kata Kusman dalam keterangan resmi, Minggu (29/3).
Pada tahun 2014, total transaksi valas BSM meningkat sebesar 30% di banding tahun 2013 menjadi Rp12 triliun. Sedangkan untuk transaksi valas dari reminttance company meningkat sebesar 55% menjadi sekitar Rp2,99 triliun di bandingkan tahun 2013. “Transaksi valas sepanjang 2014 menghasilkan fee based sekitar Rp19,6 miliar,” ujar Kusman.
Kusman menyatakan bahwa Treasury BSM memberikan harga yang kompetitif dan didukung pelayanan yang cepat serta update dalam memberikan informasi kurs kepada nasabah Korporasi, nasabah Haji, dan Reminttance Company untuk mewujudkan BSM sebagai Treasury Bank Syariah Terbaik.
Kusman Yandi berharap tahun 2015 ini volume transaksi valas dengan nasabah BSM meningkat 40% menjadi sekitar Rp17 triliun, Peningkatan itu diharapkan bersumber dari bisnis nasabah Wholesale dan retail. Untuk itu BSM akan menggiatkan pemasaran valas di kantor-kantor cabang BSM.
Sementara itu beralihnya dana haji ke bank haji juga menjadi tantangan sekaligus peluang dalam bisnis treasury terutama transaksi valas. Group Head Of Treasury & International Banking BSM Rahmat Syukri mengatakan peralihan dana haji berpotensi meningkatkan bisnis yang terkait dengan pelayanan haji dan juga umrah termasuk transaksi valas di BSM sekitar Rp 2,5 triliun.
Mengenai nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS, Rahmat berpendapat akan dapat meningkatkan permintaan valas khususnya banknote. “Namun pengaruhnya terhadap volume pasar secara nasional relatif tidak besar dan jangka pendek,” pungkas Rahmat.
(Aditya Sanjaya)


