Ratusan Kades se-Jawa Timur Alami Keracunan Massal

Ilustrasi keracunn makanan.
BeritaPrima, Malang - Ratusan kepala desa (kades) se Jawa Timur mengalami keracunan. Para kades yang keracunan merupakan peserta pendidikan dan latihan (diklat) kepemimpinan yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Gedung Balai Diklat Kota Malang.
Usai menyantap makanan yang disediakan panitia, sebagian besar kades merasa pusing, gatal-gatal, mual, dan muntah. Bahkan, seorang Kades Kabupaten Blitar sampai pingsan dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat.
|
Pilihan Redaksi
|
“Kades Kendalrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar sampai tidak sadarkan diri,” ujar Nurkhamim, Kades Karanggayam, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Rabu (22 /4/2015).
Hingga malam ini, keracunan masih berlangsung. Korban terus berjatuhan. Beberapa diantaranya dilarikan ke Rumah Sakit Hermina Kota Malang. Tidak sedikit yang dibawa ke RSU Syaiful Anwar.
Hal itu mengingat jumlah total peserta diklat yang diikuti perwakilan kades se-Jawa Timur sebanyak 320 orang. Nurkhamim sendiri mengaku terserang rasa gatal. Terutama pada bagian wajah.
“Bibir saya saja sampai jontor dan bengkak,” tegasnya.
Kecurigaan tertuju pada makanan. Terutama pada menu ikan laut dan urap-urap sayuran yang disediakan panitia secara prasmanan. Menurut Nurkhamim, gejala keracunan berlangsung cepat. Pada saat pemberian materi di kelas, beberapa peserta mendadak mengeluhkan rasa tidak nyaman.
Diklat dibagi ke dalam delapan kelas. Setiap kelas berisi 40 orang kades. Kabupaten Blitar mengirimkan delegasi 12 kades yang semuanya dari Kecamatan Srengat. Begitu juga dengan Kabupaten lain seperti Pasuruan, Malang dan sekitarnya. Karena jumlah peserta yang mengeluh pusing, mual, gatal-gatal, dan muntah terus bertambah, pemateri pun menghentikan acara.
“Kami makan habis Maghrib sekitar pukul 19.00 WIB. Acaranya biasanya berlangsung hingga pukul 21.30 WIB. Karena situasinya kacau, acara di kelas langsung dihentikan. Beberapa rekan kades yang daya tahan tubuhnya lebih kuat tidak sampai dibawa ke rumah sakit,” jelas Nurkhamim yang memilih meminum obat daripada dilarikan ke rumah sakit.
Nurkhamim menambahkan, saat ini situasi masih tidak menentu. Sebagian besar panitia sibuk menangani peserta yang keracunan. Ia tidak tahu apakah diklat yang rencananya berlangsung selama tujuh hari (20-25 April 2015) akan terus berjalan atau tidak.
“Ini diklat rutin yang wajib diikuti kades se-Jawa Timur. Sekarang ini masuk angkatan ke sepuluh. Saya tidak tahu apakah akan berlanjut atau tidak melihat situasinya seperti ini, “pungkasnya.
Sampai saat ini pihak panitia diklat kades se-Jawa Timur yang digelar di Kota Malang belum bisa dikonfirmasi. (ren)

