Islamic Investment Infrastructur Bank Terbentuk di Indonesia Tahun 2016
BeritaPrima, Jakarta - Tahun depan, Indonesia akan menjadi tuan rumah Islamic Investment Infrastructur Bank yang merupakan institusi berskala global dengan pendekatan berbasis syariah. Dengan entitas ini, pertumbuhan aset pasar keuangan syariah di Indonesia diprediksi akan meroket.
Asisten Direktur Pengembangan Pasar Uang Syariah Bank Indonesia (BI) Rifki Ismal mengatakan bank infrastruktur berbasis syariah tersebut merupakan entitas patungan antara Islamic Development Bank (IDB) dan Kementerian Keuangan.
“Pada 2016 akan terbentuk Islamic Investment Infrastructur Bank, untuk spesifiknya IDB yang menentukan,” ujar Rifki di Jakarta, Selasa (14/4).
Rifki menyebutkan pihak IDB sempat menyatakan akan menyetorkan dana senilai US$1 miliar untuk lembaga tersebut. Sementara, lanjut dia, Kementerian Keuangan masih mengkaji besaran dana yang bakal disuntik untuk entitas syariah tersebut.
Nantinya, kata Rifki, Islamic Investment Infrastructur Bank ini akan berbentuk multinational bank karena bakal membiayai proyek-proyek infrastruktur di seluruh negara muslim di dunia. Entitas ini, lanjut Rifki, akan menghimpun dana dari investor untuk membeli project sukuk yang diterbitkan pemerintah. “Markasnya di Indonesia, tapi saham mayoritasnya akan dimiliki IDB,” jelas Rifki.
Pembentukan entitas berbasis syariah ini juga diprediksi akan mempercepat target regulator agar aset industri syariah di Tanah Air, terkerek. Rifki menyebutkan dalam jangka panjang, menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah, bank sentral menargetkan setidaknya mampu menjadikan 30% aset industri perbankan di Indonesia akan menggunakan prinsip syariah.
Optimisme tersebut juga disumbang pembentukan International Working Group on Zakat Core Principles dan mega bank syariah. “Kalau melihat itu, mungkin akan lebih cepat dari yang diprediksi ,” ujar Rifki.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan Indonesia memang ditargetkan menjadi tuan rumah institusi Islamic Investment Infrastructur Bank. Lembaga tersebut nantinya akan mengutamakan penggunaan instrumen sukuk untuk pendanaan infrastruktur. “Indonesia nantinya akan punya bank infrastruktur berbasis syariah yang skalanya global. Targetnya islamic finance kita bisa kompetitif dan Indonesia bisa menjadi islamic financial hub,” kata Bambang.
Prioritas pembentukan bank ini, ujar Bambang, juga didasarkan atas kajian yang menunjukkan bahwa perbankan syariah lebih tahan menghadapi krisis dibanding entitas serupa dengan prinsip konvensional. Penyebabnya, bank syariah lebih konservatif dan mengedepankan kehati-hatian.
“Kemajuan islamic finance memang harus didukung oleh pemerintah dan tidak bisa berkembang begitu saja. Berbeda dengan bank konvensional sehingga perlu yang namanya intervensi pemerintah,” jelas Bambang.
(Aditya Sanjaya)


