Prostitusi Kalibata City Yang Diungkap Polisi Hanya Sebagian Kecil!

pskKalibataCity

Enam orang PSK dan seorang germo berhasil ditangkap aparat Polda Metro Jaya di apartemen Kalibata City, Jumat (24/4/2015). (Foto: BeritaPrima/ist)

BeritaPrima, Jakarta - Praktik prostitusi online di apartemen Kalibata City yang berhasil diungkap aparat kepolisian barulah sebagian kecil. Selain itu yang ditangkap juga mereka yang terbilang kelas bawah. Padahal jumlah PSK di apartemen kelas menengah ini jumlahnya mencapai ratusan, yang terdiri dari berbagai kelas, dari menengah hingga atas.

Dari hasil investigasi yang dilakukan BeritaPrima.com, aksi prostitusi di Kalibata City terjadi hampir di semua Tower, tidak hanya di Jasmine dan Herbras seperti yang berhasil diungkap aparat kepolisian. Biasanya para PSK online yang baru masuk ke kawasan Kalibata City berpraktik di tower-tower lama yang harga sewanya relatif lebih murah, seperti Akasia, Borneo, Cendana, Damar, Eboni, Flamboyan, Gaharu, Jasmine dan Kemuning.

Namun setelah mereka sukses dan memiliki banyak tamu biasanya pindah ke toer yang lebih mewah, yakni di Kalibata City Green Palace, seperti Lotus, Mawar, Rafles, Sakura, dan beberapa lainnya. Selain lebih mewah dan berfasilitas lebih lengkap, Green Palace relatif lebih terjaga privacy-nya. Karena itu tarif mereka yang disini umumnya lebih mahal, yakni Rp 1 juta keatas per jam.

Begitu juga mengenai latar belakang PSK yang beroperasi juga beragam, mulai dari mereka yang berasal dari keluarga miskin, model dan sales promotion girl, pekerja kantoran, mahasiswa hingga kalangan artis. “Jadi, apa yang diungkap polisi sekarang itu sama sekali tidak mencerminkan PSK yang sebenarnya di Kalibata City,” terang Dimas, salah seorang warga yang sudah tinggal di apartemen Kalibata City sekitar 4 tahun, kepda BeritaPrima.com.

Dimas memaklumi bila polisi hanya berhasil mengungkap mereka yang terbilang kelas menengah saja. Pasalnya, para PSK kelas yang lebih atas umumnya beroperasi secara mandiri. Kalaupun ada mucikarinya, kata Dimas, modusnya relatif eksklusif dan sangat tertutup, sehingga tidak mudah untuk ditelusuri. “Tetapi sepengetahuan saya banyak juga yang jual dirinya relatif terbuka via Twitter dan sampai sekarang masih aman-aman saja,” terang Dimas.

Seperti diketahui, pihak Polda Metro Jaya berhasil menangkap 6 orang PSK dan seorang germo dalam razia yang dilakukan di Kalibata City, Jumat (24/4/2015). Menurut Kanit V Subdit Reknata Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Rita Iriana, semua yang tertangkap tersebut berasal dari keluarga miskin.

Rita menjelaskan, dari pengakuan keenam gadis di bawah umur itu, mereka terpaksa mau melayani pria-pria hidung belang yang sudah bertransaksi dengan FHM karena membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan keluarga mereka.

Menurut Rita, keenam gadis yang selama ini disebut dengan julukan Angel oleh FHM, hanyalah gadis lugu dari keluarga tak mampu yang bersekolah hanya sampai sekolah menengah pertama (SMP). “Mereka tak sekolah lagi, itu yang dari luar kota itu,” kata Rita.

Selama berada di Jakarta, enam gadis itu ditampung pengelola bisnis esek-esek online di salah satu kamar di Tower Jasmine, Apartemen Kalibata City.

Enam gadis di bawah umur itu berasal dari wilayah Depok, Bogor dan Bandung. Mereka diberi pekerjaan melayani pria hidung belang dengan tarif Rp600 ribu hingga Rp800 ribu per jam.

Dalam setiap mempromosikan wanita koleksi yang dijuluki dengan kata Angel, FHM selalu memajang foto berikut identitas yang telah dipalsukan. FHM membuka jaringan prostitusi melalui situs bernama domain www.semprot.com.

Dalam situs tersebut, FHM bertugas sebagai admin dari sebuah forum yang dibuat dengan menawarkan langsung gadis-gadis di bawah umur untuk melayani seks sesaat.

Dari hasil jual diri tersebut, tambah Rita, para PSK hanya kebagian 25 persen dari tarif yang dibanderol mucikari. “Menurut keterangan, mereka dibayar hanya 25 persen dari harga yang ditentukan mucikari dengan pelanggan,” ujarnya. (Febrizky Akbar)

(Visited 70 times, 1 visits today)
Kategori: Peristiwa

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*