Jadi Berkah
Jumlah sampah warga Jakarta terus meningkat. Tapi dari sekitar 7.000 ton per hari, nyatanya ada sekitar 0,8 sampah yang dibuang dan berada di tempat yang tidak semestinya. Seperti kali dan tempat lain.
Menurut pengamat tata kota, Yayat Supriatna, pemilihan sampah organik dan non organik belum maksimal dilakukan warga Jakarta. Meski unsur teknologi sangat utama, sampah yang dibuang harusnya bisa ditekan bila sejak dari hulu telah dilakukan proses reduksi. Karena itu, pengolahan sampah perlu dilakukan dan bukan hanya soal membuang serta membawa ke penampungan di Bantar Gebang.
“Harusnya, 40 persen sampah sudah direduksi di tingkat rumah tangga. Dititip di bank sampah dan ada unsur pendapatan masyarakat. Masyarakat bisa menyimpan sampah dan menghasilkan,” kata Yayat.
Menurut Yayat, masyarakat Jakarta masih enggan mengolah sampah rumah tangga. Bahkan cenderung menolak bila lingkungan tempat tinggal mereka memiliki tempat pengolahan sampah (TPS). Warga hanya ingin satu cara, bagaimana menjauhkan sampah dari rumah mereka.
“Tidak mengurai sampai dari hulu. Membangun pengelolaan sampah 3R (Reuse, Reduce, Recycle) bisa meningkatkan nilai sampah sebagai sumber ekonomi dan pendapatan baru. Tapi ternyata tidak bisa dimaksimalkan,” katanya.
Bila pengolahan sampah bisa dilakukan dari rumah tangga, bisa saja hanya 4.000 ton sampah yang kemudian sampai di Bantar Gebang. Karena itu, masyarakat Jakarta harus memiliki komitmen dan berpikir secara realistis bahwa sampah jangan hanya diserahkan kepada pemerintah.
BeritaPrima.com Bicara Fakta