Namun upaya kudeta yang hanya berlangsung beberapa jam itu ternyata membawa korban tewas tidak sedikit, yaitu sedikitnya 250 orang tewas dan 1.500 terluka.
Korban tewas terbanyak berada di Kota Ankara, sebagian besar anggota polisi, akibat baku tembak di dekat gedung parlemen. Untuk menguasai gedung parlemen, tentara pemberontak menggunakan helikopter. Tak lama kemudian helikopter tersebut hancur ditembak pesawat F-16 Angkatan Udara Turki.
Lebih dari 2.800 tentara pemberontak ditangkap oleh petugas yang setia kepada pemerintah Erdogan. Jumlah tersebut termasuk lebih dari 100 personel militer yang sebelumnya menutup jembatan Bosporus. Jembatan Bosporus merupakan jembatan yang menghubungkan wilayah Turki di Asia dan Eropa.
Erdogan yang telah berkuasa selama 13 tahun mengultimatum akan melancarkan balasan kepada pihak yang berada di balik upaya kudeta. Ia menuding seorang tokoh oposisi yang kini bermukim di Amerika, Fethullah Gulen, sebagai pihak di balik kudeta. “Mereka harus membayar mahal terkait pengkhianatan terhadap Turki,” ujar Erdogan.
Erdogan muncul di Bandara Ataturk, Istanbul, dan memberi keterangan terkait upaya kudeta tersebut. “Pemerintah telah menguasai negeri ini sepenuhnya. Sebanyak 50 persen warga telah memilih presiden dan presiden saat ini masih bertugas,” ujar Erdogan disambut sorak-sorai pendukungnya.
Pada hari itu sebenarnya Erdogan tengah berada di Marmaris, sebuah resor di tepi pantai. Setelah pasukan pemerintah telah benar-benar melumpuhkan pasukan pemberontak, Erdogan mendarat di Bandara Ataturk.
BeritaPrima.com Bicara Fakta