Lagi, Istana Presiden Diisi Orang-Orang Titipan

Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan melantik empat depiti dan dua orang staf, Kamis (2/4/2015).
BeritaPrima, Jakarta - Aksi balas budi dan titip-menitip dalam mengisi jabatan strategis tak kunjung usai. Setelah posisi Wantimpres dan jabatan komisaris di sejumlah BUMN, kali ini giliran pos baru dibawah Kepala Staf Kepresidenan kembali jadi ajang bagi-bagi ‘jatah’ jabatan.
Hal ini diakui sendiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan yang hari ini melantik empat deputi dan dua staf yang akan membantunya di Istana Kepresidenan. Dari penuturan Luhut, enam orang tersebut direkrutnya dari hasil titipan hingga koneksi.
Yanuar Nugroho yang ditunjuk sebagai Deputi II bidang Pengelolaan Program Prioritas, Luhut mengakuinya sebagai titipan Jokowi. “Saya kenal Pak Yanuar ini dari Presiden. Jadi Presiden titip, bukan titip tapi bilang ke saya, Pak Luhut itu di sana ada yang hebat banget, namanya Yanuar,” ujar Luhut di Auditorium III Sekretariat Negara, Kamis (2/4/2015).
Usai Presiden bilang demikian, Luhut lalu mencari rekam jejak Yanuar Nugroho. Saat melihat CV-nya, Luhut sependapat dengan Presiden Jokowi atas sosok Yanuar yang capable.
“Saya cari curriculum vitae-nya, loh ini hebat banget. Saya lihat beliau sekolah dapat scholarship dan beliau orang Indonesia pertama dapat penghargaan di Inggris dalam bidang inovasi seperti ini. Dan dia minta mundur dari Manchester University dan itu ditolak karena dianggap dia sangat dibutuhkan di sana. Sehingga tiga minggu lalu dia masih meluluskan dua PhD di Manchester University. Jadi kalau mau dapat PhD minta sponsorship saja dari dia. Dan setelah saya bertemu, saya lihat wah paten juga ini orang,” tutur Luhut.
Kemudian, Luhut melanjutkan, saat dia memilih Darmawan Prasodjo (Darmo) sebagai Deputi I Bidang Monitoring dan Evaluasi. Dalam memilih Darmo, Luhut mengaku ada sedikit Nepotisme (KKN) sebab mengenal ayah Darmo.
“Memang ada KKN sedikit karena dulu ayahnya adalah instruktur saya di akademi militer. Pas saya ketemu dia, wah ini orang boleh juga. Saya lihat CV-nya paten juga,” ujar Luhut.
Lalu, Luhut mengaku mengenal Purbaya Yudhi Sadewa yang ditempatkan pada Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis, dari temannya.
“Saya tahu dari teman saya. Katanya orang hebat. Saya pingin tahu juga hebatnya seperti apa. Tapi pas saya ketemu dan diberi brief data-data kepada saya, itu sangat akurat. Dan kemudian saya tes lagi saat pertemuan saya dengan World Bank dan IMF, saya suka bawa dia,” ujarnya.
Luhut mengaku Purbaya ini bagian dari timses Jokowi-JK pada Pilpres 2014 kemarin. Bahkan, Purbaya sempat memberikan briefing Jokowi dalam debat dan kampanye. “Selama kampanye Pak Jokowi, dia yang membrief Pak Jokowi dan Pak Jokowi sangat puas dengan Pak Purbaya,” ujar Luhut.
Purbaya pun, kata Luhut, yang juga menyusun posisi para deputi ini. “Sehingga pada saat penyusunan ini saya serahkan kepada beliau, dan termasuk nama Pak Andogo dan Pak Eko, dan beliau bilang Saya setuju Pak Luhut,” ungkap Luhut.
Luhut menambahkan selama proses itu dirinya sering komunikasi dengan Presiden Jokowi. Jika Presiden Jokowi tidak sreg, maka Luhut membatalkan calonnya.
“Jadi mekanisme pengambilan keputusannya, saya lakukan seperti saat saya di militer. Saya lihat dulu semuanya walaupun Pak Presiden setuju, tapi kalau tidak pas saya akan lapor ke beliau. Tapi kebetulan apa yang dipikirkan beliau apa yang kami butuhkan itu cocok dan kita jalan,” ujarnya. (dik)

